Langsung ke konten utama

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL”
(Oleh Saskia Monalisa)

Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.
  Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi.
***
Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja biasa menunggu azan magrib dengan berkumpul di depan rumah masing-masing atau rumah tetangga untuk sekedar berbincang-bincang membicarakan kabar yang sedang hangat-hangatnya. Dengan meminum kopi atau makan sore. Saat itu Lusi bersama saudara-saudaranya sedang makan bersama, tiba-tiba Lusi tersedak makanan dan memegang lehernya yang terasa sangat menyakitkan. Semua saudaranya panik lantaran Lusi tak mampu berkata apa-apa dan Gilang keponakannya berteriak hingga menangis ketakutan. Selang beberapa menit Lusi pingsan, dan dinyatakan meninggal dunia. Warga Sukaharja berduka, jerit tangis dan bisik sana sini memenuhi setiap ruas jalan Sukaharja.
Malam menjadi sangat mencekam, semua orang menutup rumah rapat-rapat. Lolong anjing yang terdengar sangatlah kentara membuat malam itu semakin menakutkan. Hal yang pasti terlintas dipikiran warga tak lain pertanyaan-pertanyaan atas kematian yang tak wajar. Saat pagi tiba mereka siap melontarkan itu dan memberikan simpulan yang tak terbuktikan secara pasti.
***
Herman calon kepala dusun nomor urut satu. Pernah menjabat periode terdahulu. Hidup sangat sederhana dan saat kau pertama kali memandang wajahnya, akan terlihat lesung pipit. Kopiah hitam jadi jurus jitu untuk menaklukan hati masyarakat. Tubuh yang lumayan tinggi dan badan kurus.
Selama Herman menjabat tidak ada perubahan yang berarti. Jalan dan kesejahteraan masyarakat masih sama dengan tahun-tahun terdahulu. Hanya sawahnya sajalah yang semakin hari semakin meluas.
“Jangan pilih Pak Eman, deh, kalau masih pengen sawah kalian utuh,” begitu ujar salah satu ibu-ibu petani ketika membicakan perihal pemilihan kepala dusun.
“Tapi, kan, Pak Eman masih saudara kita.”
“Ah, sekarang masih dianggap saudara, gak tahu besok.”
Herman akrab dipanggil Pak Eman. Pekerjaan sehari-hari Herman setelah lengser dari jabatan hanya berladang di ladang miliknya yang luas. Saat mencalonkan lagi, sebagian sawah Herman dijual sebagai modal membeli hak pilih warga. Mulut dan perut masyarakat harus diisi dengan lembar-lembar rupiah. Hal ini wajar bagi mayoritas masyarakat. Semua hal memang mampu dibeli dengan rupiah. Tetapi mereka tidak pernah merasakan nikmatnya sebelum hari esok tiba. Karena saat hari esok tiba, rupiah itu menjelma makanan lele.
            Keinginan dan semangat Herman tidak pernah padam dalam pemilihan kepala dusun. Sudah beberapa kali dirinya mencalonkan, tetapi tetap saja berbuah nihil. Berbagai cara sudah dilakukan, seperti membagikan makanan bergizi, mendatangi rumah warga, dan menghadiri pengajian ibu-ibu. Padahal sebelumnya tidak pernah kau melihat Pak Eman bertamu dari rumah ke rumah dalam jangka waktu dekat. Menjelang pemilihan, jalinan silaturahmi semakin kuat, tetapi hanya yang satu pemikiran saja. Selebihnya adu mulut, sindir-sindiran, bahkan adu domba.
***
            Nomor urut kedua adalah seorang terpelajar di Sukaharja. Masih muda, namun sangat disegani masyarakat. Terlebih beliau masih menjabat, terhitung sudah dua periode berturut-turut. Bambang tak pernah ingin melengserkan dirinya. Bambang tak lain adalah suami dari Lusi, Ibu kepala dusun yang meninggal sebulan lalu.
            Usia keduanya terpaut lima tahun lebih tua sang istri. Kecintaan Bambang cukuplah besar, hingga keberhasilannya pun tak lain dari dorongan sang istri yang juga terpelajar. Kepemimpinan Bambang sangat dirasakan masyarakat. Kesejahteraan sangat dijunjung tinggi dan Kampung Sukaharja pun dikenal bersih dan nyaman.
“Jangan pilih Pak Bambang lagi,” ucap Bu Minah penjual sembako dekat pemakaman.
“Lo, kenapa? Pak Bambang orang  baik. Liat semua jalan diaspal berkat beliau.” Sanggah pembeli yang tak terima calon pilihannya tak boleh dipilih.
“Itu tanah makam makin luas, tuh. Desa kita bakal jadi penampungan mayat dari perumahan tetangga. Hih..., bergidik ngebayanginnya,” sanggah Bu Minah tak mau kalah.
***
            Calon nomor urut tiga merupakan sosok apatis dan punya hubungan sosial  kurang baik dengan warga, namun Badrun seorang saudagar kencur di Kampung Sukaharja. Banyak orang iri pada kekayaanya. Pada malam-malam tertentu, Badrun sering mengitari rumahnya dan menaruh beberapa lilin disetiap sisinya. Menaburkan bunga di halaman rumah. Jajaran mobil bernilai tinggi membuat mata terbelalak dan tubuh bergidig. Rumah megahnya bahkan hampir dikelilingi  dengan mobil-mobil yang digunakan sebagai lahan usahanya. Jika kau hendak melintasi rumahnya tak jarang membuat bulu kuduk berdiri. Lantaran aura rumah yang berbeda dengan rumah kebanyakan warga Sukaharja.
            Tubuh Badrun yang tinggi, gagah, dan wajah yang datar mampu membuat kau terhipnotis serta membuat mulut bungkam. Karena kau tidak tahu harus berbicara apa kepadanya. Diksi yang biasa dipakai pun tidak akan tepat dilontarkan padanya.
Setelah Badrun berani mencalonkan diri menjadi kepala dusun, dirinya mulai membuka mulut yang rapat itu. Setidaknya kata seperti “iya” atau “tidak” keluar dari bibir tebalnya. Rumah Badrun yang selalu sepi dari gelak tawa dan lantunan ayat suci Al-Qur’an mendadak terdengar. Bahkan hampir setiap hari selalu ramai dikunjungi warga yang sepaham dengan pemikiran dan mengincar kursi yang lebih tinggi dikalangan masyarakat Desa Sukaharja kelak.
            “Lalu siapa yang mengirimkan sihir kepada Ibu Lusi?” tanya salah satu ibu-ibu arisan.
            “Siapa lagi kalau bukan Pak Badrun. Liat aja rumahnya mentereng, mobilnya banyak dan dia gak pernah ikut pengajian.”
            “Huss! Gak boleh nuduh tanpa bukti.”
            “Iya, gak boleh, Bu.”
            “Siapa yang nuduh? Kenyataannya emang Pak Badrun punya teman begituan.”
            “Begituan gimana maksudnya?”
            “Makhluk halus. Mana mungkin suaminya Bu Lusi sendiri yang kirim itu?”
            “Siapa tahu Pak Eman? Walau sering ngaji, tapi Pak Eman punya ilmu usir hantu.”
            Semua orang membicarakan kematian Lusi dan kekurangan para calon. Tak ada yang tidak membicarakannya, hingga waktu berjalan dua bulan kemudian.
Bambang naik lagi sebagai kepala dusun untuk ketiga kalinya. Isu tak kunjung reda. Masih banyak yang bertanya-tanya perihal kematian Lusi.
            “Mah, yang bunuh Ibu Lusi, kan, Pak Bambang. Kok, pada nyalahin orang lain, sih?” celetuk Gilang yang masih berumur enam tahun kepada ibunya.
            “Kata siapa, Lang? Nggak boleh ngomong sembarangan!”
            “Gilang liat, sendiri kok. Setan yang cekik Bu Lusi itu bilang ke Gilang. Mamah jangan bilang siapa-siapa, ya? Soalnya setannya serem banget. Gilang takut Mah.”
            “Sudah, diam aja. Pak Bambang itu saudara kita. Jangan cerita ke siapa-siapa dan pura-pura gak bisa lihat hantu yah, sebentar lagi Gilang-kan masuk SD. Nanti temen-temen Gilang pada takut sama Gilang, ya.” Bujuk Mamah Gilang dengan pelan.
            “Iya Mah.”
***
            Sekarang kau sudah puas bukan? Selain sebagai media balas dendam dengan Badrun yang pernah memfitnah, kau juga mendapat bayaran dari Bambang. Bukan hanya itu saja, Bambang juga sudah bahagia dengan adikmu yang menjadi istri ke dua Bambang, kini mereka tak perlu sembunyi lagi dari masyarakat.
“Hebat, sudah menjadi takdir seorang istri mengabdi kepada sang suami bukan?”
“Iya, Bang.” jawab Bambang.
“Hahaha...pinter juga lu yah, jangan lupa tumbal selanjutnya.”
*Selesai*


*Keterangan: Cerpen ini sudah pernah diikut sertakan dalam lomba cipta cerpen UGM 2020, namun belum masuk dalam nominasi. Terima kasih telah membaca cerita ini, jika ada saran dan kritik yang membangun silakan tuliskan di kolom komentar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)

JELMAAN (Karya: Saskia Monalisa)             Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.             Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. K...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...