Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit.
Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan.
***
Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibalah seorang pendatang yang tidak dikenal. Seorang pengembara yang singgah di daerah tersebut. Kedatangannya membawa berkah, orang itu bertapa selama beberapa hari persis di sekitar Sumur Ambaro itu berada. Hingga datanglah mata air yang besar itu di tengah-tengah pesawahan nan indah dan luas. Entah bagaimana air itu bisa muncul secara tiba-tiba.
Air itu juga bagaikan tempat yang kramat bagi masyarakat sekitar. Tak pernah ada yang berani memotret, maupun merekam kegiatan di sana. Karena akan dipastikan semua itu akan rusak atau menghilang. Pernah suatu ketika, seorang mahasiswa yang ingin mengulik sejarah Sumur Ambaro. Panggillah mahasiswa itu Ijan. Ijan melakukan segala permintaan kuncen kala itu. Seperti menyediakan sesajen yang berisikan berbagai macam hidangan, yaitu kopi pahit, kopi manis, teh pahit teh manis, susu, nasi putih dan nasi merah yang sengaja dibentuk seperti tumpeng dengan bentuk yang lebih kecil, bunga tujuh rupa, dan tak lupa kemenyan beserta pendupa.
“Pak, sesajennya sudah saya siapkan. Apa yang harus saya lakukan?” Tanya Ijan.
“Ayo kita mengaji dan bakar kemenyannya di dalam.” Jawab kuncen.
“Setelah itu pak?”
“Bertapa sampai jam dua belas malam.”
“Wah... Baik pak.” Jawab Ijan dengan mantap, karena tugas kuliah memaksanya harus melakukan apapun demi mendapatkan data atau informasi sebenar-benarnya.
Sekitar beberapa jam Ijan dan kuncen bertapa ditempat yang sudah disediakan, jaraknya tidak begitu jauh dari Sumur. Hampir sekitar 17 jam terhitung dari jam 08.00 WIB sampai jam 00.00 WIB. Semua percakapan kuncen yang telah dirasuki oleh penunggu Sumur Ambaro yaitu Mbah Rante direkamnya dengan handphone. Karena lebih praktis dan tidak akan ada yang tertinggal, serta tak perlu repot-repot, dengan teknologi semua menjadi lebih mudah, begitu pikir Ijan.
Namun, sesampainya di rumah, saat Ijan ingin memutar rekaman tersebut, rekaman itu ternyata hanya terdengar suara gaduh seperti suara kaset rusak. Semenjak itu, kuncen tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk merekam atau memotret peristiwa yang terjadi di Sumur Ambaro.
***
Sang kuncen bernama Pak Sala. Pak Sala adalah keturunan keenam dari kuncen di Sumur Ambaro. Untuk menurunkan ilmu dan menggantikan kuncen sebelumnya, tidaklah sembarang orang dan tidaklah mudah. Pak Sala harus berpuasa selama satu bulan lamanya, dan setiap hari wajib bertapa di Sumur Ambaro tersebut.
Hingga tibalah saat hari ke-28 berpuasa. Pak Sala bermimpi didatangi oleh sosok laki-laki dan laki-laki itu bertanya.
“Mau apa kamu?” Ucap Mbah Rante.
“Saya diminta untuk turunin tugas bapak saya di sini Mbah.”
“Baiklah. Tapi buatkan musolah di sini, dan kamu harus kerja! Jangan jadi pengangguran, ini bukan tempat cari uang!”
“Iya baik Mbah.”
Setelah itu, barulah Pak Sala resmi menjadi kuncen Sumur Ambaro. Melaksanakan tradisi merayakan wayang kulit setiap tahunnya dan menguras Sumur Ambaro yang berisikan uang receh dari para pengunjung. Selain itu juga merawat serta menjaga Sumur Ambaro pagi, siang dan malam.
***
Tak jarang Pak Sala bercakap-cakap dengan Mbah Rante, saat Ia bertapa dan didatangi dalam mimpinya. Mbah Rante selalu menjadi penasehat dalam segala masalahnya. Terkadang Pak Sala merasakan bahwa dirinya menjadi begitu bijak di hadapan Mbah Rante, tetapi setelah selesai dari mimpi Ia hanyalah orang biasa dan tidak merasakan kebijakan di dalam dirinya.
Pak Sala tak pernah mengetahui bagaimana sejarah Sumur Ambaro yang telah Ia rawat selama beberapa tahun. Bahkan sedari kecil pun tak pernah Pak Sala mendengar cerita dari bapaknya yang juga seorang kuncen. Semua kuncen tidak ada yang bisa menjawab bagaimana sejarah tempat tersebut, karena yang bisa menjawab itu adalah Mbah Rante seorang. Jika ingin mendengarnya, lakukanlah seperti apa yang telah dilakukan Ijan, biar sang kuncen yang menjadi media penyampai pesan Mbah Rante. Oleh sebab itu, Mbah Rante masih menjadi misteri dikalangan masyarakat. Namun, masyarakat selalu menghormatinya sebagai penjaga sumber kesejahteraan masyarakat kampung.
“Saya hanya seorang kuncen, yang ditugaskan untuk menjaga dan sebagai media untuk menyampaikan pesan.” Tutur Pak Sala.
*Cerpen ini pernah dikirimkan disalah satu koran nasional, namun belum sampai pada tahap pemuatan. Terima kasih sudah sedia membaca, silakan diberikan masukan dan sarannya di kolom komentar.
Komentar
Posting Komentar