Langsung ke konten utama

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)



JELMAAN
(Karya: Saskia Monalisa)

            Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.
            Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. Karena takut ada ular bersarang di bawahnya.
            Dari kejauhan terlihat rumah panggung milik tetangga. Rumahnya dipenuhi anak kecil yang sedang main masakan, dari tungku yang  tersusun dari tumpukan batu bata. Atasnya ditaruh genting dan anak kecil itu menuangkan adonan tanah yang dicampur air. Mereka menyebutnya kue coklat. Aku tersenyum melihat ulah anak-anak yang sudah semakin pintar dan kreatif.
            Neng? Mana bakulna?”
            Eh, enya. Ieu ma.”
            Suara Ema menyadarkanku dari lamunan. Kami sedang mencari salak, untuk dijual. Meskipun salak kami tidak semanis salak pondoh setidaknya salak kami bisa ditukar dengan rupiah untuk membeli lauk pauk sehari-hari.
***
Sejak dua minggu silam aku mencari-cari Jagoan. Wajahnya yang rupawan selalu mengingatkan diri ini dengan Laki yang pergi tanpa alasan. Di umurnya yang menginjak tujuh tahun, ia tak pernah minta dibelikan mainan olehku atau kakek dan neneknya. Jagoan selalu berusaha membuat aku bahagia, meski dengan hal sederhana. Seperti membawakan belut, sehabis ia bermain di sawah dekat rumah. Belut itu aku masak dan kami memakannya dengan lahap. Sungguh semua itu adalah kebahagiaan yang tidak akan bisa ditukar oleh apapun. Aku sangat senang melihat Jagoan tumbuh dengan cepat. Banyak orang bilang bahwa ia sangat mirip dengan Laki. Kulitnya putih, matanya sipit, rambutnya ikal hingga alisnya yang sangat hitam membuatnya terlihat berbeda dengan teman sebaya.
Pertemuanku dengan Laki cukup singkat, hanya butuh beberapa detik untuk mencintainya. Bapak dan Ema bilang aku sudah di-pelet, tetapi itu tidak mungkin. Postur tubuh Laki sangat kekar dan tinggi, membuatku mabuk kepalang. Hidungnya yang mancung membuat aku ingin memperbaiki keturunan. Alisnyapun tebal dan sangat hitam. Sayang sekali Ema dan Bapak tak pernah menyukai Laki. Ema bilang dia sangat aneh karena tak banyak bicara. Matanya yang tajam membuat Ema teringat sesuatu di masa lampau.
Aku bertemu dengan Laki saat sedang mencari salak dan sebelum aku dicatuk ular hitam di kebun salak milik Ema. Aku sedang mencari salak untuk dijual ke tengkulak salak. Untung saja Laki menolongku dari serangan ular kobra yang sedang bersarang di bawah pohon salak. Pada saat itu aku terkejut hingga aku jatuh ditumpukan sampah daun yang sudah bercampur baur. Ular itu siap mempatuk kakiku. Aku berteriak sekeras mungkin, tetapi tidak ada yang dengar. Karena jarak kebun memang cukup jauh dari rumah tetangga.
Segala usaha sudah aku lakukan, seperti melemparnya dengan sampah dedaunan, kayu bahkan salak yang berserakan disekitarku. Tetapi itu tidak cukup untuk mengusirnya. Ketika aku sudah pasrah dengan hidup dan matiku, pada saat itu pula Laki langsung menangkap ularnya dari arah belakang. Sungguh tidak masuk diakal, mudah sekali aku jatuh hati padanya. Keberaniannya telah menyelamatkan nyawaku. Membuat diri ini ingin selalu dilindungi olehnya.
***
Desa Kertarahayu, Kampung Cikahuripan di sinilah aku dilahirkan. Orang-orang bilang Kampung ini sangat terpelosok. Banyak cerita mistis dan mitos orangtua yang harus ditaati penduduk Kampung sejak kecil. Bukan hal sulit bagiku karena diri ini putri salah satu sesepuh. Banyak orang menghormati Bapak dan leluhurnya. Jagoan selalu bermain dengan Bapak semenjak ditinggal Laki.
“Ibu ulah sieun kos Ayah, aya Jagoan di dieu
Muhun Jagoan.”
Begitu nyata pernyataan yang Jagoan lontarkan. Aku menganggapnya sebagai penguat untuk seorang ibu yang selalu menangis setiap malam menyapa. Ya, isakkan yang terdengar samar-samar. Semua itu bukti nyata rasa rindu kepada Laki yang tega meninggalkan Jagoan tumbuh tanpa sosok ayah.
Setiap malam Jagoan selalu tidur dengan rasa ketakutan, bahkan ia tak kuasa melihat ke luar rumah saat deru azan magrib terdengar.
“Ibu, buruan ka jero imah! ulah di luar wae.” kata Jagoan dengan nada merengek.
Kagok, ieu samak pesenan Nek Sarmi kudu anggeus isukan.” jawabku sambil menganyam tikar daun pandan.
Hayu, Bu, ka jero. Sakeudeung deui aya nu datang,” desak Jagoan, Risau.
Saha, Tong?” Heran, rumahku ini jarang ada tamu.
Teu nyaho. Hayu, Bu,” paksa Jagoan sambil menarik-narik tanganku.
He’euh, he’heuh, sakedeung,” ucapnya seraya menuruti keinginan Jagoan.
Perkataan itu selalu aku anggap biasa. Tak ada yang aneh, sebab sedari dulu Ema melarang berada di luar rumah saat malam tiba. Mengapa Jagoan tahu hal itu? Apakah diberi tahu oleh kakeknya? Aku tidak pernah bertanya.
***
            Sepulang sekolah, Jagoan selalu ke sawah bersama Arman sepupunya. Tubuh Arman lebih kecil dan berkulit hitam. Setiap mencari belut, mereka bekerja sama. Arman bertugas sebagai mencari sarang belut dan Jagoan merogoh lubang hingga dapat. Arman anak yang sangat teliti, berbeda dengan Jagoan. Anakku itu selalu lupa dengan sesuatu, termasuk pesan untuk tidak bermain terlalu jauh.
            “Man, mana deui liangna?”
            “Sabar. Abdi neangan di dieu heula.”
            “Man, di Galian sigana loba liangna.”
            “He, ulah, Wan. Urang mah, ulah ka dinya.”
            Dengan rasa penasaran, Jagoan pergi ke arah Galian yang tidak boleh didekati anak kecil. Kedalaman galian bisa mencapai empat sampai enam meter. Lubangnya lebih dari lima. Nenek moyang bilang Galian tidak boleh didatangi. Awalnya hanya hamparan sawah yang luas nan subur berisi pasir.
Sejak manusia-manusia serakah datang ke Kampung, mereka menghasut para nenek dan kakek-kakek untuk menjual dengan harga mahal. Orang kota tahu di Kampung sangat berlimpah sumber daya alam. Mereka mengambil sumber alam lalu menjual ke kota. Begitulah cerita yang kudengar dari Bapak dan Ema, semenjak aku masih dalam kandungan.
            Bapak juga bercerita setelah sawah digali para pemilik baru, banyak ular yang datang kepemukiman, bahkan sampai ke rumahku. Ema hampir dipatuk ular putih berukuran cukup besar saat aku masih dalam kandungan. Untung ada Bapak yang siap siaga, hingga ular itu mati. Bapak bilang ular itu sedang mengandung. Karena ketika Bapak menebas tepat di bagian perut ada telur yang turut pecah menjadi dua bagian. Aku merinding saat Bapak bercerita penuh antusias. Seperti berada di dalam cerita.
            “Man, buruan  ka dieu. Aya imah alus pisan di ditu!” teriak Jagoan kepada Arman yang jaraknya cukup jauh. Jagoan menunjuk matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat.
            Ilok, ah, imahna Pak Lurah mereun,” sahut Arman dengan nada masa bodo. Dia sibuk mencari-cari lubang belut yang berada di Sawah.
            Lain, Man, leuwih alus deui,” tambah Jagoan.
            Naon sih, hayu balik ges burit,” ajak Arman yang hendak pulang karena hari menjelang malam.
            Maneh ti heula we, Man. Abdi arek ngebak heula di kali
            Engke maneh balik nya. Bising ditanyakeun kolot maneh.” Arman berpesan agar Jagoan jangan terlalu lama mandi.
            He’heu, Man”
***
            Hari semakin sore, tetapi Jagoan tidak kunjung pulang. Kutanya Arman yang sedang makan di luar rumah panggung. Ternyata ia tidak tahu mengapa Jagoan belum pulang. Aku cari Jagoan ke sawah yang diselimuti senja. Aku memutari sawah seluasi hamparan karpet hijau. Sawah itu mencangkup Kampung tetangga. Aku tak bisa membayangkan betapa luasnya sawah ini sebelum aku lahir. Jagoan tetap tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Kegelapan melahab senja. Dibenakku selalu teringat perkataan Ema yang melarang pergi ke tempat galian sedari kecil. Tangis tak mampu kubendung, teringat diri ini pada suamiku, canda tawa Jagoan, pelukan hangat yang selalu kurasakan pada setiap malam, bagaikan obat dari rasa sakit yang selama ini aku rasakan.
            Neng, mana Si Entong?”
Tiba-tiba suara Ema mengagetkan. Isak tangis semakin memuncak di gubuk tengah Sawah.
Teu aya Ema, Eneng enggeus neangan kamana-mana. Teu aya.” Aku menyeka air mata yang membasahi pipi.
Nya enggeus, hayu Pak urang ka ditu!” ajak Ema kepada Bapak yang ikut membawa obor. Wajahnya memancarkan kebencian.
Aku hanya mengikuti Ema dan Bapak bersama Mamang yang juga mencari Jagoan.
            Kuterka ke mana arah mereka pergi. Angin malam menusuk kulit bahkan relung hati. Kaki dan tubuhku gemetar. Ema sejak tadi menopang tubuh yang lemas tak berdaya. Namun, masih sanggup untuk melangkah demi mencari Jagoanku satu-satunya.
Suara kokol terdengar dari seberang kampung. Mamang dengan gagah perkasa berlari menuju suara kokol di seberang. Aku tak tahu itu pertanda apa, tetapi merasa hawa panas di tubuh ini semakin tinggi. Entah mengapa.
Heh, aya naon ieu?” Mamang berteriak, ingin memastikan.
Ka dieu, Pak, okosna aya nu maot. Tibang aya sendalna, hungkul."
"Ya Allah, Gusti... Eta sendal jepit Jagoan lain Neng?" tanya Ema padaku.
Jantung dan tubuhku membeku. Pikiran sudah tak mampu kukendalikan. Siapa lagi jika bukan Jagoan yang paling aku sayang. Anak yang paling aku banggakan. Setiap hari tak pernah sepi saat ia berada di dekatku. Diri ini tahu Jagoan adalah hasil hubungan yang tak pernah orangtuaku inginkan, tapi aku yakin Jagoan bukanlah kesalahan. Orangtuaku menerima Jagoan, tetapi tidak dengan Laki, Ayahnya.
Memang sulit dipercaya aku mencintai sosok pangeran dari istana yang mungkin bisa Jagoanku lihat saat itu. Bapak bilang mereka bukan manusia, tapi iblis yang bersarang di sana. Mereka mencoba balas dendam atas perbuatan manusia-manusia serakah yang telah mengusik kehidupan. Termasuk membalas dendamnya kepada Bapak yang telah membunuh putrinya. Putri yang menjelma seekor ular putih yang hampir mematuk Ema. Semoga Jagoan bahagia bersama Ayahnya di istana. Terkadang ceritaku terdengar mustahil, namun itulah kenyataannya. Aku jatuh cinta pada iblis yang menjelma manusia.
*Selesai

Keterangan:
*Neng: Panggilan untuk anak perempuan
*Mana Bakulna: Mana bakulnya
*Enya: Iya
*Ieu: Ini
*Pelet : Pikat
*Ulah : Jangan
*Sieun : Takut
*Kos : Seperti     
*Aya : Ada
*Di dieu : Di sini
*Muhun : Baik
*Buruan : Cepat
*Deui liangna: Lagi lubangnya
*Abdi neangan: Saya cari
*Di dieu heula: Di sini dulu
*Sigana loba liangna: Sepertinya banyak lubangnya
*Ulah: Jangan
*Urang mah: Kita
*Ulah ka dinya: Gak boleh ke sana
*Ka dieu: Ke sini
*Imah alus pisan: Rumah bagus banget
*Di ditu: di situ
*Ilok: Masa sih
*Mereun: mungkin
*Lain: Bukan
*Leuwih alus: Lebih bagus
*Naon sih: Apa sih
*Hayu balik: Ayo Pulang
*Ges Burit: udah sore
*Maneh ti heula we: Kamu duluan saja
*Abdi arek: Saya mau       
*Ngebak Heula di kali: Mandi dulu di kali
*Engke maneh balik nya: Nanti kamu pulang ya           
*Bising ditanyakeun kolot maneh:Takut ditanyakan orangtua kamu
*Entong: Panggilan anak laki-laki
*Teu aya: Tidak ada
*Enggeus neangan kamana-mana: Sudah mencari kemana-mana
*Urang ka ditu: Kita ke situ
*Okosna aya nu maot: Sepertinya ada yang meninggal
*Tibang aya sendalna: Cuma ada sendalnya
*Hungkul: saja
*Eta: Itu


Cerpen ini sudah pernah dilombakan dalam acara "Festival Sastra" di UGM Yogyakarta 2019 dan masuk dalam 5 nominasi naskah terbaik lomba cipta cerpen Festival Sastra. Terima kasih sudah membaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL” (Oleh Saskia Monalisa) Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.   Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi. *** Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...