JELMAAN
(Karya: Saskia
Monalisa)
Di bawah rimbunnya kebun salak, aku
terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak.
Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer
pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat
runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat
duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.
Di sela lebatnya pohon salak,
terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari.
Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini
sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar
menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah
dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. Karena takut
ada ular bersarang di bawahnya.
Dari kejauhan terlihat rumah
panggung milik tetangga. Rumahnya dipenuhi anak kecil yang sedang main masakan,
dari tungku yang tersusun dari tumpukan
batu bata. Atasnya ditaruh genting dan anak kecil itu menuangkan adonan tanah
yang dicampur air. Mereka menyebutnya kue coklat. Aku tersenyum melihat ulah
anak-anak yang sudah semakin pintar dan kreatif.
“Neng?
Mana bakulna?”
“Eh,
enya. Ieu ma.”
Suara Ema menyadarkanku dari
lamunan. Kami sedang mencari salak, untuk dijual. Meskipun salak kami tidak
semanis salak pondoh setidaknya salak kami bisa ditukar dengan rupiah untuk
membeli lauk pauk sehari-hari.
***
Sejak
dua minggu silam aku mencari-cari Jagoan. Wajahnya yang rupawan selalu
mengingatkan diri ini dengan Laki yang pergi tanpa alasan. Di umurnya yang
menginjak tujuh tahun, ia tak pernah minta dibelikan mainan olehku atau kakek
dan neneknya. Jagoan selalu berusaha membuat aku bahagia, meski dengan hal sederhana.
Seperti membawakan belut, sehabis ia bermain di sawah dekat rumah. Belut itu
aku masak dan kami memakannya dengan lahap. Sungguh semua itu adalah kebahagiaan
yang tidak akan bisa ditukar oleh apapun. Aku sangat senang melihat Jagoan
tumbuh dengan cepat. Banyak orang bilang bahwa ia sangat mirip dengan Laki.
Kulitnya putih, matanya sipit, rambutnya ikal hingga alisnya yang sangat hitam
membuatnya terlihat berbeda dengan teman sebaya.
Pertemuanku
dengan Laki cukup singkat, hanya butuh beberapa detik untuk mencintainya. Bapak
dan Ema bilang aku sudah di-pelet,
tetapi itu tidak mungkin. Postur tubuh Laki sangat kekar dan tinggi, membuatku
mabuk kepalang. Hidungnya yang mancung membuat aku ingin memperbaiki keturunan.
Alisnyapun tebal dan sangat hitam. Sayang sekali Ema dan Bapak tak pernah
menyukai Laki. Ema bilang dia sangat aneh karena tak banyak bicara. Matanya
yang tajam membuat Ema teringat sesuatu di masa lampau.
Aku
bertemu dengan Laki saat sedang mencari salak dan sebelum aku dicatuk ular
hitam di kebun salak milik Ema. Aku sedang mencari salak untuk dijual ke tengkulak
salak. Untung saja Laki menolongku dari serangan ular kobra yang sedang bersarang
di bawah pohon salak. Pada saat itu aku terkejut hingga aku jatuh ditumpukan
sampah daun yang sudah bercampur baur. Ular itu siap mempatuk kakiku. Aku
berteriak sekeras mungkin, tetapi tidak ada yang dengar. Karena jarak kebun
memang cukup jauh dari rumah tetangga.
Segala
usaha sudah aku lakukan, seperti melemparnya dengan sampah dedaunan, kayu
bahkan salak yang berserakan disekitarku. Tetapi itu tidak cukup untuk
mengusirnya. Ketika aku sudah pasrah dengan hidup dan matiku, pada saat itu
pula Laki langsung menangkap ularnya dari arah belakang. Sungguh tidak masuk
diakal, mudah sekali aku jatuh hati padanya. Keberaniannya telah menyelamatkan
nyawaku. Membuat diri ini ingin selalu dilindungi olehnya.
***
Desa
Kertarahayu, Kampung Cikahuripan di sinilah aku dilahirkan. Orang-orang bilang
Kampung ini sangat terpelosok. Banyak cerita mistis dan mitos orangtua yang
harus ditaati penduduk Kampung sejak kecil. Bukan hal sulit bagiku karena diri
ini putri salah satu sesepuh. Banyak orang menghormati Bapak dan leluhurnya. Jagoan
selalu bermain dengan Bapak semenjak ditinggal Laki.
“Ibu
ulah sieun kos Ayah, aya Jagoan di dieu”
“Muhun Jagoan.”
Begitu
nyata pernyataan yang Jagoan lontarkan. Aku menganggapnya sebagai penguat untuk
seorang ibu yang selalu menangis setiap malam menyapa. Ya, isakkan yang
terdengar samar-samar. Semua itu bukti nyata rasa rindu kepada Laki yang tega
meninggalkan Jagoan tumbuh tanpa sosok ayah.
Setiap
malam Jagoan selalu tidur dengan rasa ketakutan, bahkan ia tak kuasa melihat ke
luar rumah saat deru azan magrib terdengar.
“Ibu,
buruan ka jero imah! ulah di luar wae.”
kata Jagoan dengan nada merengek.
“Kagok, ieu samak pesenan Nek Sarmi kudu
anggeus isukan.” jawabku sambil menganyam tikar daun pandan.
“Hayu, Bu, ka jero. Sakeudeung deui aya
nu datang,” desak Jagoan, Risau.
“Saha, Tong?” Heran, rumahku ini jarang
ada tamu.
“Teu nyaho. Hayu, Bu,” paksa Jagoan
sambil menarik-narik tanganku.
“He’euh, he’heuh, sakedeung,” ucapnya
seraya menuruti keinginan Jagoan.
Perkataan
itu selalu aku anggap biasa. Tak ada yang aneh, sebab sedari dulu Ema melarang
berada di luar rumah saat malam tiba. Mengapa Jagoan tahu hal itu? Apakah
diberi tahu oleh kakeknya? Aku tidak pernah bertanya.
***
Sepulang sekolah, Jagoan selalu ke
sawah bersama Arman sepupunya. Tubuh Arman lebih kecil dan berkulit hitam.
Setiap mencari belut, mereka bekerja sama. Arman bertugas sebagai mencari
sarang belut dan Jagoan merogoh lubang hingga dapat. Arman anak yang sangat
teliti, berbeda dengan Jagoan. Anakku itu selalu lupa dengan sesuatu, termasuk
pesan untuk tidak bermain terlalu jauh.
“Man, mana deui liangna?”
“Sabar. Abdi neangan di dieu heula.”
“Man, di Galian sigana loba liangna.”
“He, ulah, Wan. Urang mah, ulah
ka dinya.”
Dengan rasa penasaran, Jagoan pergi
ke arah Galian yang tidak boleh didekati anak kecil. Kedalaman galian bisa
mencapai empat sampai enam meter. Lubangnya lebih dari lima. Nenek moyang
bilang Galian tidak boleh didatangi. Awalnya hanya hamparan sawah yang luas nan
subur berisi pasir.
Sejak
manusia-manusia serakah datang ke Kampung, mereka menghasut para nenek dan
kakek-kakek untuk menjual dengan harga mahal. Orang kota tahu di Kampung sangat
berlimpah sumber daya alam. Mereka mengambil sumber alam lalu menjual ke kota. Begitulah
cerita yang kudengar dari Bapak dan Ema, semenjak aku masih dalam kandungan.
Bapak juga bercerita setelah sawah
digali para pemilik baru, banyak ular yang datang kepemukiman, bahkan sampai ke
rumahku. Ema hampir dipatuk ular putih berukuran cukup besar saat aku masih
dalam kandungan. Untung ada Bapak yang siap siaga, hingga ular itu mati. Bapak
bilang ular itu sedang mengandung. Karena ketika Bapak menebas tepat di bagian
perut ada telur yang turut pecah menjadi dua bagian. Aku merinding saat Bapak bercerita
penuh antusias. Seperti berada di dalam cerita.
“Man, buruan ka dieu. Aya imah alus pisan di ditu!” teriak
Jagoan kepada Arman yang jaraknya cukup jauh. Jagoan menunjuk matahari yang
hampir tenggelam di ufuk barat.
“Ilok,
ah, imahna Pak Lurah mereun,” sahut Arman dengan nada masa
bodo. Dia sibuk mencari-cari lubang belut yang berada di Sawah.
“Lain,
Man, leuwih alus deui,” tambah Jagoan.
“Naon
sih, hayu balik ges burit,” ajak Arman yang hendak pulang karena hari menjelang
malam.
“Maneh
ti heula we, Man. Abdi arek ngebak
heula di kali”
“Engke
maneh balik nya. Bising ditanyakeun
kolot maneh.” Arman berpesan agar Jagoan jangan terlalu lama mandi.
“He’heu,
Man”
***
Hari semakin sore, tetapi Jagoan
tidak kunjung pulang. Kutanya Arman yang sedang makan di luar rumah panggung.
Ternyata ia tidak tahu mengapa Jagoan belum pulang. Aku cari Jagoan ke sawah
yang diselimuti senja. Aku memutari sawah seluasi hamparan karpet hijau. Sawah
itu mencangkup Kampung tetangga. Aku tak bisa membayangkan betapa luasnya sawah
ini sebelum aku lahir. Jagoan tetap tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Kegelapan
melahab senja. Dibenakku selalu teringat perkataan Ema yang melarang pergi ke
tempat galian sedari kecil. Tangis tak mampu kubendung, teringat diri ini pada
suamiku, canda tawa Jagoan, pelukan hangat yang selalu kurasakan pada setiap
malam, bagaikan obat dari rasa sakit yang selama ini aku rasakan.
“Neng,
mana Si Entong?”
Tiba-tiba
suara Ema mengagetkan. Isak tangis semakin memuncak di gubuk tengah Sawah.
“Teu aya Ema, Eneng enggeus neangan
kamana-mana. Teu aya.” Aku menyeka air mata yang membasahi pipi.
“Nya enggeus, hayu Pak urang ka ditu!”
ajak Ema kepada Bapak yang ikut membawa obor. Wajahnya memancarkan kebencian.
Aku
hanya mengikuti Ema dan Bapak bersama Mamang yang juga mencari Jagoan.
Kuterka ke mana arah mereka pergi.
Angin malam menusuk kulit bahkan relung hati. Kaki dan tubuhku gemetar. Ema sejak
tadi menopang tubuh yang lemas tak berdaya. Namun, masih sanggup untuk
melangkah demi mencari Jagoanku satu-satunya.
Suara
kokol terdengar dari seberang kampung. Mamang dengan gagah perkasa berlari
menuju suara kokol di seberang. Aku tak tahu itu pertanda apa, tetapi merasa
hawa panas di tubuh ini semakin tinggi. Entah mengapa.
“Heh, aya naon ieu?” Mamang berteriak,
ingin memastikan.
“Ka dieu, Pak, okosna aya nu maot. Tibang aya
sendalna, hungkul."
"Ya
Allah, Gusti... Eta sendal jepit
Jagoan lain Neng?" tanya Ema
padaku.
Jantung
dan tubuhku membeku. Pikiran sudah tak mampu kukendalikan. Siapa lagi jika bukan
Jagoan yang paling aku sayang. Anak yang paling aku banggakan. Setiap hari tak
pernah sepi saat ia berada di dekatku. Diri ini tahu Jagoan adalah hasil
hubungan yang tak pernah orangtuaku inginkan, tapi aku yakin Jagoan bukanlah kesalahan.
Orangtuaku menerima Jagoan, tetapi tidak dengan Laki, Ayahnya.
Memang
sulit dipercaya aku mencintai sosok pangeran dari istana yang mungkin bisa
Jagoanku lihat saat itu. Bapak bilang mereka bukan manusia, tapi iblis yang
bersarang di sana. Mereka mencoba balas dendam atas perbuatan manusia-manusia
serakah yang telah mengusik kehidupan. Termasuk membalas dendamnya kepada Bapak
yang telah membunuh putrinya. Putri yang menjelma seekor ular putih yang hampir
mematuk Ema. Semoga Jagoan bahagia bersama Ayahnya di istana. Terkadang
ceritaku terdengar mustahil, namun itulah kenyataannya. Aku jatuh cinta pada
iblis yang menjelma manusia.
*Selesai
Keterangan:
*Neng: Panggilan untuk anak perempuan
*Mana Bakulna: Mana bakulnya
*Enya: Iya
*Ieu: Ini
*Pelet : Pikat
*Ulah : Jangan
*Sieun : Takut
*Kos : Seperti
*Aya : Ada
*Di dieu : Di sini
*Muhun : Baik
*Buruan : Cepat
*Deui liangna: Lagi lubangnya
*Abdi neangan: Saya cari
*Di dieu heula: Di sini dulu
*Sigana loba liangna: Sepertinya banyak
lubangnya
*Ulah: Jangan
*Urang mah: Kita
*Ulah ka dinya: Gak boleh ke sana
*Ka dieu: Ke sini
*Imah alus pisan: Rumah bagus banget
*Di ditu: di situ
*Ilok: Masa sih
*Mereun: mungkin
*Lain: Bukan
*Leuwih alus: Lebih bagus
*Naon sih: Apa sih
*Hayu balik: Ayo Pulang
*Ges Burit: udah sore
*Maneh ti heula we: Kamu duluan saja
*Abdi arek: Saya mau
*Ngebak Heula di kali: Mandi dulu di kali
*Engke maneh balik nya: Nanti kamu pulang
ya
*Bising ditanyakeun kolot maneh:Takut
ditanyakan orangtua kamu
*Entong: Panggilan anak laki-laki
*Teu aya: Tidak ada
*Enggeus neangan kamana-mana: Sudah
mencari kemana-mana
*Urang ka ditu: Kita ke situ
*Okosna aya nu maot: Sepertinya ada yang
meninggal
*Tibang aya sendalna: Cuma ada sendalnya
*Hungkul: saja
*Eta: Itu
Cerpen ini sudah pernah dilombakan dalam acara "Festival Sastra" di UGM Yogyakarta 2019 dan masuk dalam 5 nominasi naskah terbaik lomba cipta cerpen Festival Sastra. Terima kasih sudah membaca.
Komentar
Posting Komentar