Langsung ke konten utama
Keindahan alam selalu membuat senyum lebar di bibirku dan menyadarkanku betapa indah dan sempurnanya ciptaan Allah ta'ala.😇

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL” (Oleh Saskia Monalisa) Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.   Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi. *** Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja...

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)

JELMAAN (Karya: Saskia Monalisa)             Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.             Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. K...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...