Langsung ke konten utama

Resume Kumpulan Puisi "Gadis Laut" Karya Dewi Murni

 RESUME KUMPULAN PUISI “GADIS LAUT” KARYA DEWI MURNI

Karya. Saskia Monalisa

Puisi memberikan arti pada setiap kata, memiliki banyak makna di setiap bait dan menyimpan banyak pesan untuk para pembaca. Pesan tidak harus ditulis dengan makna tersurat namun akan lebih bermakna jika ditulis dengan makna tersirat. Puisi Gadis Laut memberikan pelajaran berharga, tentang hidup sebagai manusia, hidup sebagai wanita dan hidup sebagai seorang anak. Pelajaran hidup itu tersirat dalam setiap bait puisi. Menjadikan puisi Gadis Laut ini kaya akan makna hidup.

Pelajaran berharga tentang hidup sebagai manusia tersimpan dalam puisi Perayaan. Dalam puisi ini laut dimaknai sebagai seorang ibu, membesarkan ikan-ikan dan menyuguhkan penyedap rasa. Namun perilaku manusia hanyalah merusak ibunya, yang tak lain adalah laut, alam yang di tempati manusia. Begitulah perilaku manusia saat ini, tak banyak yang peduli dengan alam. Namun alam tak pernah habis untuk memberi apa yang manusia inginkan, seperti layaknya seorang ibu.

Pelajaran hidup sebagai wanita terselip dalam puisi Ladang Bertunas. Puisi tersebut memberikan pelajaran bahwa sebagai wanita harta paling berharga adalah dirinya sendiri. Wanita harus menjaga dirinya dan tidak menjual murah harta paling berharganya demi masa depan dan kehormataan. Sehingga wanita tidak perlu membangun pagar yang tinggi untuk menutupi aibnya. Oleh sebab itu wanita harus menjaga diri dengan baik karena wanita adalah ladang bertunas. Ladang untuk masa depan bangsa.

Pelajaran hidup sebagai seorang anak dapat dilihat dalam puisi Bunga Karawang. Dalam puisi ini seorang anak perempuan digambarkan, sejak ia kecil sampai tumbuh dewasa. Namun, ia tak pernah memikirkan kondisi orangtuanya yang banting tulang untuk membesarkannya. Kurang lebih begitulah gambaran sosok anak zaman sekarang. Meskipun tidak semua anak seperti itu, namun zamanlah yang membuatnya mengikuti zamannya.

Selain kaya makna puisi Gadis Laut juga kaya akan diksi lokalitas. Beberapa di antaranya puisi yang berjudul Jarum Kaput yang terdapat diksi Kaput yang berarti kegiatan jahit-menjait. Puisi yang berjudul Potret Bunga Karawang juga memiiliki diksi lokalitas yaitu Cetok yang berasal dari Bahasa sunda merupakan sebuan topi yang berbentuk kerucut, terbuat dari bambu yang biasa dipakai oleh petani. Puisi Bunga Karawang terdapat kata ‘Heuras genggong, kudu bias kabulu kabale, dan sirung-sirung”. Semua kata ini adalah bahasa asli orang Karawang yang mayoritas menggunakan Bahasa sunda dalam kehidupan sehari-hari.

Puisi-puisi feminism ditandai oleh sub judul Tanda Perempuan takkan Hilang yang berisikan 16 puisi di antaranya adalah puisi yang berjudul Jarum Kaput, Asi dalam Dekapan, Susur Tangan Perempuan, Perempuan Wajan, Tanda pada Dandang, Ingat Anak, Pohon Sri Rezeki, Beban Hawa, Dalam Tubuh Puan, Potret Bunga Karawang, Bunga Karawang, Ladang Bertunas, Perempuan Lilin, Tempayan Ibu, Dukun Tutut dan Sumber Kehangatan.

Puisi Gadis Laut menjadi suguhan paling apik untuk para pembaca karena bukan hanya menghibur, puisi Gadis Laut memberikan pelajaran berharga tentang hidup. Seperti penggalan larik terakhir dari puisi Gadis Laut, yaitu “Ia pulang dengan bekal doa-doa dari laut”. Sebagai tanda bahwa puisi ini bisa menjadi bekal untuk para pembacanya. Bekal itu berupa bekal nasihat yang didapat layaknya dari seorang ibu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL” (Oleh Saskia Monalisa) Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.   Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi. *** Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja...

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)

JELMAAN (Karya: Saskia Monalisa)             Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.             Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. K...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...