Sekar
Oleh. Saskia Monalisa
Ada manusia yang ingin hidupnya panjang
umur. Namun, ada pula manusia yang ingin segera mengakhiri hidup secepatnya.
Karena hidup terlalu lama terkadang membuat seseorang jenuh dan merasakan
sakitnya rasa kesepian dan ditelantarkan. Seperti nenek tua yang bernama Sekar.
Umur Sekar yang mencapai seratus tahun itu, sangatlah menyiksa dirinya.
“Kumaha Ma, atos
rada mendingan? (Gimana Ma, sudah baikan?)” Ucap Raden anak bungsu Sekar.
“Yeah.... nya kieu
wae Den. (Yeah.... begini aja Den.)” jawab Sekar yang sedang berbaring di bale depan rumahnya.
“Atos tuang teu
acan Ma? Ieu aya sate kanggo Ema. (Udah makan belum Ma, ini saya bawa sate
buat Ema)” kata Raden sambil menyodorkan beberapa tusuk sate kepada Sekar.
“Teu salah Den?... Kan
Ema mah, teu dahar sate. (Engga salah Den? Ema kan ga makan sate.)”
“Astagfirullah, oh
enya nya. Aduh hampura hilap Ma. (Astagfirullah, oh iya yah, aduh maaf lupa
Ma)” ucap Raden seraya menepuk jidatnya.
Sekar memang tidak pernah memakan
sate. Sekar selalu bilang bahwa ia tidak suka makan sate. Sekar adalah orangtua
yang keras terhadap anaknya sewaktu muda. Selalu meminta anak-anaknya untuk
berladang dan mengurus sawah hingga petang.
Sehingga anak Sekar banyak yang pergi meninggalkannya merantau ke kota. Dari ketujuh anak hanya beberapa orang anak yang
masih dekat dengannya, walau tidak dengan sepenuh hati. Hanya Raden putra
bungsunya dan anak keduanya. Umur Raden yang sudah berkepala empat membuatnya lelah
mengurus ibunya sendiri, karena Raden pun hidup serba kekurangan menafkahi anak
istrinya.
Raden
juga sangat kesal kepada Sekar, karena ia merasa mendapat warisan paling
sedikit ketimbang anak yang lain. Padahal hanya Radenlah yang bertahan mengurus
Sekar hingga kini. Karena rasa kesalnya kepada Sekar, Raden mengirimkan
penyakit dengan meminta pada dukun di kampung. Mak Toge namanya. Sehingga Sekar
disiksa oleh penyakitnya.
“Ni, naha anak sareung
cucu téh kan di siksa jiga kitu? (Ne,
mengapa engkau menyiksa anak dan cucumu seperti ini?)” ucap menantu.
Semua
menantu dan cucunya memang memanggil Sekar dengan sebutan nenek. Bukan Eneng lagi,
yang biasa Umpi gunakan sebagai nama panggilannya.
“Enya, nini gé hoyong énggal-énggal
ngantunkeun supados teu nyusahkeun maraneh. (Iya, Nenek juga
pengen cepet mati biar tidak menyusahkan kalian)”
“Enya, tong cuma gering, tapi jagjag deui. Hayoh we jiga
kitu. (Iya,
jangan cuma sakit terus seger lagi, terus-terusan kaya gitu)” ucapnya sinis
Rupanya kematiannya juga sangat
didambakan oleh anak, menatu dan cucunya. Mereka sudah tidak tahan melihat
Sekar hidup di dunia ini lagi. Kini Sekar hanya orangtua yang sudah tidak punya
apa-apa lagi dan mereka sudah tidak membutuhkannya. Raden pernah meminta Mak
Toge untuk menyudahi hidup ibunya itu, Sekar. Namun tak pernah berhasil. Karena
benda di tubuhnya membuatnya sulit untuk mati.
***
“Eh, Den. Nuju naon? Kumaha Ema? Masih
panjang umur kan? (Eh, Den. Lagi apa? gimana Ema? Masih panjang umur?)”
tanya kakak Raden yang kebetulan berpapasan di Pasar saat Raden membeli
perlengkapan warungnya.
“Eh Abang, balanja warung Bang. Alhamdulilah
nya Bang. Abdi ge heran sih naha si Ema disiksa ku umur na. (Eh Abang,
belanja warung Bang. Alhamdulilah bang, ya gitu. Saya juga heran kenapa Ema
disiksa sama umurnya.)”
“Hmm.... makana mun menta nyabut elmu jeung
susuk na oge. Abang mah karunya ningali na oge. (Hmm.... Makanya minta cabut
ilmu sama susuknya itu, kasian Abang liatnya.)” ucap Abang sambil dipelankan
nada suaranya.
“Susuk? Ema make susuk Bang? (Susuk? Ema
pake susuk Bang)” sontak Raden kaget mendengar pernyataan Abang.
“Emang anjeun teu apal Den? (Emang lu gak
tau Den?)”
“Henteu Bang. (Engak Bang.)” jawab Raden
penuh tanda tanya, mengapa ia tidak mengetahui itu semua.
Sekar
memang tidak pernah bercerita kepada siapapun, kecuali kepada anaknya yang
memang menemaninya saat muda dulu. Itupun diberitahu oleh para tetangga yang
senang sekali membicarakan keburukan Sekar saat muda. Sekar juga tidak bisa
melepas susuk itu, karena benda itu hanya bisa diambil oleh orang yang sudah
menanamkannya yaitu Umpi. Segala yang Umpi wariskan kepadanya yang berupa
doa-doa dan benda-benda warisan berupa keris dan golok, harus dijaga sampai ada
yang mau meneruskannya. Sedangkan anak cucu tidak ada yang becus dan tidak
percaya akan kekuatannya. Setiap malam senin, ia memandikan benda-benda itu dengan
campuran kembang, agar tetap betah di rumah, bersama dengan doa-doa yang ia
panjatkan untuk para keruhun yang sudah pergi meninggalkan. Saudara-saudaranya
sudah lama meninggal dunia, mereka selalu menitip pesan agar susuk yang Sekar
pakai segera dicabut.
Dahulu
Umpi pernah menancapkan benda itu dibagian kening Sekar, kedua pipi dan
kemaluannya. Benda tersebut ditancapkan saat Sekar berumur 13 tahun, Umpi
selalu memaksa Sekar untuk memakai benda tersebut. Karena tubuhnya yang kurus
dan kulitnya yang cukup hitam. Saat Umpi menancapkan benda itu, Umpi
mengucapkan beberapa ucap kata yang tak mungkin dipahami maknanya oleh
sembarang orang.
Benda
itu berwarna kuning keemasan, bentuknya seperti jarum, namun lebih kecil. Saat
benda tersebut akan ditancapkan ditubuh Sekar, Ia sempat menolak, karena Sekar
berpikir pasti terasa sakit dan mengganjal. Tetapi, saat susuk itu masuk
perlahan dengan alat bantu dan doa-doa yang Umpi panjatkan, tidak sedikitpun
Sekar berteriak kesakitan. Hingga susuk terakhir yang Umpi pasangkan dikemaluan
Sekar, dengan posisi tubuhnya yang terbaring di bale, Sekar hanya berbalut
sehelai kain. Umpi menyingkapkan kain tersebut dan menelusuri hutan yang tidak
begitu lebat, dan menancapkan susuk dibagian yang paling intim. Kata Umpi
perawan yang lama belum menikah adalah aib dikeluarga.
Setelah Sekar memakai susuk itu, laki-laki
yang ia lewati akan selalu menatapnya dengan penuh hasrat. Sehingga seorang
sersan mayor yang bertubuh tegap dan berhidung mancung, menyunting Sekar dengan
beberapa batang emas.
***
Suara
pintu mulai terdengar jeritnya membuat Sekar tahu bahwa sudah banyak yang
terbangun dan menjalankan aktivitasnya. Suara kokok ayam mulai bersahutan
seiring dengan kicauan burung. Lintasan motor yang tergesa-gesa serta suara
ricikan air dari got-got dekat rumah mulai mengalir. Pagi itu Sekar langkahkan
kakinya bersama tongkat kayu jati sebagai penopang badan yang rapuh, menuju Makam
Eyang Dalam Gandasoli. Beliau adalah orang sakti yang diyakini bisa memberikan
petunjuk dan sebagainya. Beliau berasal dari Cirebon, dan merupakan seorang
santri pada masa para wali. Sekar datang membawa sesajen dan meminta petunjuk
agar ia terlepas dari penderitaan itu. Sekar susuri jalan tanah yang cukup jauh
dari rumah, dihiasi kebun bambu dan kebun warga yang ditanami pohon jati maupun
pohon pisang dan pepaya.
Sesampainya
di makam Eyang Dalam Gandasoli, yang dibatasi jeruji besi dan plang sejarah
Eyang. Sekar sajikan sesajen itu ditempat sesajen di mana biasa orang
meletakannya. Tepatnya di samping makan Eyang. Sekar panjatkan beberapa doa dan
meminta petunjuk yang benar agar dirinya terbebas dari penderitaan itu. Sekar sudah
lelah sakit-sakitan, tetapi setelah itu ia sehat kembali, selalu seperti itu.
Sepulang
dari makam, Sekar baringkan tubuhnya yang ringkih, hanya sisa tulang berbalut
kulit keriput dan rambut putih, diranjang yang dulu pernah ada almarhum
suaminya. Tak lama kemudian Sekarpun terlelap. Dalam tidurnya, Sekar didatangi
seseorang yang tak asing lagi baginya. Umpi. Iya, tidak salah lagi itu adalah
Umpi yang telah melahirkannya. Diusap kepalanya dan diberi mantra yang dahulu
pernah Sekar dengar, meski tidak pernah ia mengerti.
“Néng, hampura Umpi
nyah. Gara gara Umpi Néng jadi sangsara hirup na. (Neng, maafin Umpi yah. Gara-gara Umpi kamu
jadi hidup sengsara.) ” ucap Umpi setelah mengusap kepalanya. Wajahnya basah
terlintasi air yang menetes dari mata rabunnya.
“Pi, Néng hoyong
nyusul Umpi sareung bapak. Néng tos capé Pi. (Pi, Neng pengen
susul Umpi sama Bapak. Neng udah cape Pi).”
“Enya, mangga anjeun
teangan si Mak Toge. (Iya,
silakan kamu cari si Mak Toge.)”
“Saha eta Pi? Pi? Umpi.... (Siapa
dia PI? Pi? Umpi....)” sontak Sekar terbangun dari mimpinya.
Lagi-lagi
Sekar menangis dan saat itu terasa sangat menyakitkan baginya. Tiba-tiba
seluruh badannya lemas dan lidahnya keluh, sudah ia paksakan kaki dan tangan
untuk bergerak, namun hasilnya nihil. Setengah tubuhnya mati rasa.
Sekar
hanya mampu berbaring di tempat tidur selama beberapa jam, menunggu anak atau
cucunya datang menengoknya. Namun, sedari fajar hingga senja, tidak ada anak
maupun menantunya yang datang. Sekar merasa memang harus segera mengakhiri
hidupnya.
***
Akhirnya
setelah sekian lama, Raden pun datang menemui Sekar. Dilihatnya Sekar yang
terbujur tak berdaya. Tanpa basa basi Raden langsung memanggil Mak Toge. Mak
Toge adalah anak tiri dari Umpi. Dia yang mewarisi sebagian ilmu Umpi dan
sebagian mencuri ilmu Umpi diam-diam.
Semua
anak-anak Sekar berkumpul dan terlihat biasa saja. Bahkan Raden sudah
mempersiapkan kain kafan dan meminta Mak Toge mencabut seluruh ilmu yang ada di
tubuh Sekar. Tidak lama waktu berselang, dilihat Sekar dengan rupa yang sangat
mengerikan. Wajahnya yang dulu terlihat cerah, kini sangat kusam. Gigi
taringnya keluar. Kulit di pipinya mengendur sekali. Hingga siapapun yang
melihatnya tidak akan bisa mengenalinya. Mak Toge bilang bahwa Sekar mirip
sekali dengan nenek moyangnya, yang menjelma sebagai Macan. Itulah alasan lain mengapa
Sekar dipakaikan susuk ditubuhnya.
SELESAI
Cerpen ini pernah dilombakan dalam acara "Bulan Bahasa KMSI UNY 2019" di Yogyakarta. Namun, tidak masuk dalam juara tiga besar. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Salam literasi.
Komentar
Posting Komentar