Langsung ke konten utama

Wisata Alam Bogor "Situ Rawa Gede"

WISATA SITU RAWA GEDE
(Karya Saskia Monalisa)

Wisata situ Rawa Gede adalah tempat wisata alam yang mengangkat situ atau rawa yang berada di Desa Sinarjaya, Sukamakmur, Kecamatan Bogor. Harga masuk atau tiket yang ditawarkan pada saat aku ke sana yaitu dengan harga Rp. 20.000 rupiah. Aku ke sana pada tanggal 24 November 2019. Jarak tempuh yang aku lakukan pada saat itu sekitar 2 jam perjalanan, dari Bekasi, Setu. Rutenya sudah bagus, namun cukup sepi. Maka direkomendasikan tidak pulang terlalu malam karena cukup berbahaya. 

Apa aja sih keindahan di sana? Pasti itu yang kalian ingin tahukan?...
Keindahan yang ditawarkan oleh Situ Rawa Gede adalah keindahan rawa di bawah kaki gunung dan pemandangan alam yang sejuk. Berdiri di atas jembatan dan berfoto-foto di atas rawa yang sangat luas. 

Tetapi hati-hati ya... dikarenakan rawa, maka rumputnya pun terkadang jika diinjak akan terjerobos ke dalam lumpur. 😂 Selain jembatan di atas rawa, juga ada tempat renang, air terjun (meski tidak begitu tinggi) dan tempat selfie Love yang sedang exis ddi sosial media. 

Fasilitas yang ada juga sudah bagus, seperti musolah, wc, tempat makan, tempat parkir dan bisa untuk berkemah di sana juga loh. Pada saat aku ke sana, banyak orang mancing dan dapat ikan yang lumayan banyak. Bagi kalian yang suka mancing dan berkemah aku rasa ini tempat yang bagus. 

Wisatanya belum begitu banyak diketahui orang, tetapi tempatnya nyaman dan asri banget. Cocok buat kamu yang butuh ketenangan dan kejenuhan atas hiruk pikuknya perkotaan atau kehidupan yang Fana ini, hehe... Owh iya banyak bunga-bunga juga loh di sana cocok deh buat kamu yang suka bunga atau mau foto prewedding di Situ Rawa Gede. 

Oke, mungkin itu saja yang bisa aku share ke kalian. Semoga bermanfaat dan happy weekend. 
Jumat, 03 Januari 2020







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL” (Oleh Saskia Monalisa) Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.   Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi. *** Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja...

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)

JELMAAN (Karya: Saskia Monalisa)             Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.             Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. K...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...