Langsung ke konten utama

Apresiasi Puisi Karya Yun Dong Ju dengan Judul "Ragam Satwa dalam Puisi Yun Dong Ju"

Ragam Satwa Dalam Puisi Yun Dong Ju
                                       
            Masuknya perfilman Korea atau biasa disebut drama korea di Indonesia, memberikan wawasan baru bagi saya sebagai penikmat. Drama korea yang paling saya sukai adalah drama bertemakan patriotik atau perjuangan. Karena selain menikmati adegan demi adegan saya juga mendapat pengetahuan baru mengenai Negara Korea di masa lampau. Salah satu drama korea yang bertemakan patriotik atau perjuangan seperti The Battleship Islan, Hwarang, dan lain sebagainya. Namun, setelah saya menonton drama korea yang berjudul “W” yang mengisahkan seorang pembuat  Webtoon, membuat saya tertarik untuk menonton drama-drama korea yang diangkat dari kisah nyata. Sehingga menggugah saya untuk menggali lebih dalam pengetahuan umum mengenai Korea, terutama karya-karya sastra yang berupa novel maupun puisi.
Salah satu puisi yang sudah saya baca yaitu karya Yun Dong Ju. Bukunya berjudul Langit, Angin, Bintang dan Puisi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ibu Nenden Lilis A. Ia seorang sastrawan Korea, menulis sejak ia berumur 15 tahun, sekitar pada tahun 1930-an sampai ia meninggal dunia. Lewat puisi-puisinya tergambarkan kisah-kisah penjajahan Jepang terhadap Korea pada masa itu. Puisi-puisi tersebut merepresentasikan penderitaan yang dialami oleh masyarakat pribumi. Masyarakat yang terjajah dan suara rakyat yang dibungkam.
Salah satu larik puisi yang menggambarkan bahwa rakyat Korea menderita yaitu bisa terlihat pada puisi berjudul “Ayam” dengan larik /Menggerutu tentang keseharian yang lesu/.../Dengan kedua kakinya yang kecil/ /Dan paruhnya yang kelaparan/. Sedangkan larik puisi yang merefresentasikan suara rakyat dibungkam yaitu pada larik-larik puisi berjudul “Burung Pipit” dengan salah satu lariknya /Meski sepanjang hari belajar aksara/ /Hanya kata “cit” yang dapat ditulisnya/. Puisi-puisi tersebut mengandung sebuah metafor yang sebenarnya ditujukan sebagai sebuah penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat Korea.
Setelah membaca kumpulan puisi Yun Dong Ju, yaitu Langit, Angin, Bintang dan Puisi lebih dalam, saya tertarik dengan puisi-puisi yang bertemakan satwa. Dari 88 puisi dan 5 prosa yang terdapat di dalam antalogi terdapat sekitar 7 jenis berjudul satwa. Puisi tersebut bertiti mangsa tidak begitu jauh, yaitu sekitar 1935-1936. Bukan hanya ke-7 puisi tersebut saja yang bertemakan satwa, namun masih ada sekitar puluhan puisi yang di dalamnya menggunakan diksi satwa. Baik dari jenis unggas sampai pada jenis reptil dan mamalia. Ketujuh puisi tersebut berjudul “Ayam”, “Merpati”, “Jangkrik dan aku”, “Kunang-kunang”, “Burung Pipit”, “Anak Ayam”, dan “Cangkang Kerang”.
Sedangkan sekitar puluhan puisi berdiksikan nama-nama satwa, salah satunya yaitu “Hati” dengan memunculkan nama satwa seperti kelinci, elang, penyu dan naga.  Lalu ada puisi “Puncak Birobong” dengan menggunakan diksi satwa seperti burung-burung dan kupu-kupu. Ada juga puisi “Pada Malam Saat Aku Menghitung Bintang” dengan diksi satwa merpati, anak anjing, kelinci, keledai dan rusa. Selanjutnya dengan berdiksikan satwa ular dan cacing, yaitu terdapat pada puisi “Puncak Gunung”  dan masih banyak yang lainnya.
Kemunculan nama-nama satwa dalam puisi Yun Dong Ju memberikan sebuah makna yang tersurat bagi pembaca dan memberikan simbol tersendiri dari sebuah kehidupan maupun peristiwa. Poin inilah yang akan saya kupas lebih mendalam apa maksud dan tujuan dari munculnya nama-nama hewan dalam puisi Yun Dong Ju. Sehingga kita dapat mengetahui lebih lanjut makna atau pesan apa yang ingin Dong Ju sampaikan kepada pembaca dan nilai apa yang bisa kita petik dari sebuah kejadian tersebut.
Puisi berjudul “Ayam” ditulis pada musim semi 1936, puisi ini terdiri atas tiga bait, setiap bait berjumlah tiga sampai empat larik. Berikut contoh lariknya, /Langit biru membayang di balik sebuah kandang/ /Ayam-ayam melupakan kebebasan tanah kelahiran/ /Menggerutu tentang keseharian yang lesu/ /Sembari meneriakkan derita kaum petelur/ /Dari kandang yang suram/ /Muncul seekor leghorn,/ /Dan dari sebuah akademi/ /Membubung sekawan burung/ /Pada sebuah siang yang cerah dibulan Maret/ /Para ayam menggali kompos yang melapuk/ /Dengan kedua kakinya yang kecil/ /Dan paruhnya yang kelaparan./ /Terus, hingga kedua matanya memerah­-/.
Jika dipahami dari larik ke larik, puisi “Ayam” menggambarkan penderitaan kaum ayam. Ayam dapat dimetaforakan sebagai rakyat Korea, dan Ayam Leghorn serta sekawan burung memetaforakan kaum penjajah di Negeri Ginseng pada saat itu. Yun Dong Ju mencoba mendeskripsikan situasi rakyat pada saat dijajah oleh Jepang, dengan pemajasan sebagai representesi dunia nyata. Larik-larik akhir /Para ayam menggali kompos yang melapuk/ /Dengan kedua kakinya yang kecil/ /Dan paruhnya yang kelaparan./ /Terus, hingga kedua matanya memerah­-/ menunjukkan bahwa rakyat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan hidup, terutama kebutuhan makan. Jelas sekali Yun Dong Ju menyebutkan diksi Kelaparan pada puisi tersebut. Berdasarkan puisi tersebut sudah tidak bisa disangkal lagi bahwa rakyat pada saat itu menderita kelaparan.
Selain puisi berjudul “Ayam”, terdapat puisi berjudul “Merpati” yang ditulis pada Maret, 1936. Puisi ini memiliki tipografi dua bait, pada bait pertama berisi enam larik dan bait kedua memiliki empat larik. Berikut adalah kutipannya, /Pada pagi hari libur yang cerah/ /Di Sawah yang datar sehabis panen/ /Tujuh ekor merpati gunung/ /Yang sungguh lucu/ /Berebut mematuki makanan/ /Sambil bercakap kisah yang rumit/ /Sepasang sayap ramping mengepak, mengacak udara yang tenang/ /Dua ekor merpati terbang/ /Seolah teringat anaknya di rumah.
Menurut sumber yang saya baca, burung merpati adalah lambang dari kesetiaan, kesucian dan keharmonisan.ˡ Merpati digambarkan sebagai satwa yang malang pada puisi tersebut. Terlihat pada larik ...Berebut mematuki makanan... /Sambil bercakap kisah yang rumit/ /Sepasang sayap ramping mengepak... /Seolah teringat anaknya di rumah/. Larik-larik ini menggambarkan burung merpati yang sedang kesulitan dalam hidupnya, hingga harus berebut makanan dengan burung merpati lainnya. Lalu larik /Sepasang Sayap ramping mengepak/ merepresentasikan burung merpati tidak hidup bahagia dan kelaparan, sehingga dua pasang merpati seolah-olah teringat anaknya di rumah. Entah memang anaknya menunggu atau hanya teringat saja. Mungkin, anaknya sudah pergi karena menjadi korban penjajahan.
Selanjutnya puisi yang berjudul “Anak Ayam” ditulis pada bulan Januari, 1936. Rima atau irama yang terdapat pada puisi ini menggunakan onomatope, atau tiruan terhadap suatu bunyi, yaitu bunyi anak ayam dan induk ayam. Onomatope yang dimunculkan yaitu bunyi cit, cit, cit dan petok, petok. Berikut adalah kutipan lariknya,  /Cit, cit, cit/ /Ibu, berikan susu/ /Pinta anak ayam./ /Petok, petok/ /Ya, tunggu dulu/ /Jawab induk ayam./ /Tak lama kemudian/ /Para anak ayam/ /Berkumpul dalam/ /Pelukan induknya/.
Bunyi onomatope tersebut mengingatkan penulis pada beberapa puisi yang juga memiliki onomatope yaitu “Jangkrik dan Aku” dan “Burung Pipit”. Pada puisi “Jangkrik dan Aku” bunyi /Krik, krik,/ yang terdapat dalam empat larik. Onomatope pada puisi “Burung Pipit”, berbunyi /Cicit/, /cuit/ dan /cit/. Onomatope ini memberikan tanda dari seekor burung perihal penderitaan dan suara yang dibungkam.

ˡ Ganjar Firmansyah. 2018. “5 Filosofi Hidup yang Bisa Kamu Pelajari Dari Seekor Burung”. diakses dari https://www.idntimes.com/life/inspirarion/ganjar-firmansyah/filosofi-hidup-seekor-burung-c1c2. pada tanggal  29 Juni 2019, pukul 13.07 WIB.

Lewat suara hewanlah Dong Ju mampu menyampaikan maksud kepada dunia bahwa tempat tinggal masyarakat Korea sedang ditimpa musibah.
            Bukan hanya itu saja bukti yang menunjukan Dong Ju benar-benar memberikan tanda di dalam puisinya. Jika dipahami dari puisi “Anak Ayam” bait pertama, /Ibu, berikan susu/ larik ini menunjukkan bahwa yang dimaksud Dong Ju bukanlah seekor anak ayam, melainkan anak manusia yang dimetaforkan. Karena tidak mungkin ayam meminum susu dan meminta kepada induknya. Ayam adalah unggas yang bertelur bukan menyusui. Selain itu pada puisi “Anak Ayam” memiliki kesamaan dengan puisi “Ayam”, dan “Merpati” yang mana ketiga puisi ini mengkisahkan kerinduan dan derita pada masa dahulu. Derita yang paling Yoon Dong Ju ke depankan dari ketiga puisi tersebut adalah derita kelaparan.
            Dong Ju sengaja memunculkan nama satwa dalam puisinya sebagai media untuk mengkritik atau menyampaikan pesan. Semua satwa tersebut merepresentasikan masyarakat Korea maupun orang-orang Jepang yang telah merampas kebahagian dan ketenangan masyarakat Korea. Namun Dong Ju tidak sembarang dalam memunculkan diksi hewan dalam puisinya, ia menyesuaikannya dengan sifat yang dimiliki dan makna yang terkandung di dalam hewan tersebut, sehingga pembaca dengan mudah menafsirkannya. Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan bawasanya mahluk hidup yang ada di dunia ini kehidupannya tidak jauh berbeda dengan manusia. Bahkan manusialah yang saat ini sudah menyerupai hewan atau satwa. Mungkin itu sebabnya Yun Dong Ju menggunakan nama satwa sebagai media untuk mengkritik.  

*Esai ini sudah diikut sertakan dalam kegiatan  Korean Literature Essay Contest dengan tema “Apresiasi Antalogi Puisi Karya Yun Dong Ju” yang diselenggarakan oleh FPBS UPI, Bandung 25 Juli 2019. Namun tidak masuk dalam kategori juara.

Komentar

  1. Dan sampai sekarang, saya juga masih suka drakor "Jewel In The Palace." Apalagi dulu nonton bareng kakak. Makin asik deh pokoknya hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk nonton drakor lagi kak. Jadi semakin merindu.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL” (Oleh Saskia Monalisa) Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.   Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi. *** Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja...

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)

JELMAAN (Karya: Saskia Monalisa)             Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.             Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. K...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...