Analisis Semiotika Puisi “Doa” Karya Sapardi Djoko
Damono
Analisis ini saya buat karena puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Doa”
diksinya sangatlah sederhana namun kaya akan makna. Oleh karena itu saya tertarik
untuk menganaisisnya lebih dalam dengan kajian semotika. Semoga dengan analisis
puisi ini bisa menambah wawasan dan memberikan manfaat bagi pembaca baik akademik
maupun sebatas pengetahuan. Berikut adalah analisis semiotika puisi “Doa” karya
Sapardi Djoko Damono.
Doa
Kau
pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai
kauucapkan dan
memenjarakannya di selembar kertas. Ia
abadi di situ.
Ia
sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang
hening ketika malam
ini kau melisankannya keras-keras.
Alangkah
indah bunyinya.
Tidak ada yang pernah mengatakan padaku
seperti
apa sebenarnya
hubunganmu dengan doa itu.
1.
Kajian
Semiotika “Doa”
1.1. Analisis Aspek
Sintaksis
Jika
dilihat dari tipografinya puisi “Doa” terdiri atas tiga bait dengan jumlah
larik di setiap baitnya berbeda, bait pertama berjumlah dua larik, bait ke dua
berjumlah dua larik pula, sedangkan bait ke tiga berjumlah satu larik.
Huruf awal disetiap lariknya menggunakan
huruf kapital dan ditemukan lima tanda baca final yang letaknya berada di
setiap lariknya. Selain itu puisi ini memiliki dua larik yang dicetak miring,
larik pertama yang bercetak miring adalah larik kedua dan larik keempat, yaitu --ia
abadi di situ-- dan larik --alangkah indah bunyinya-- larik
ini dicetak miring sebagai tanda bahwa larik itu merupakan penegasan dari larik
di depannya. Puisi ini berbeda dengan yang lain, puisi ini berbentuk paragraf
dan untuk membedakan mana bait dan mana larik, maka setiap satu paragraf adalah
satu bait dan setiap satu kalimat adalah satu larik. Namun begitu analisis
puisi ini didasarkan pada keutuhan makna, ditemukanlah bahwa puisi ini terdiri
atas lima kalimat yang seluruhnya merupakan kalimat tunggal.
Kau pun buru-buru menangkap doa
yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di selembar kertas adalah
kalimat pertama yang memiliki konstruksi sebagai berikut, subjek --kau
pun-- predikat --buru-buru menangkap-- objek --doa yang baru selesai kauucapkan dan
memenjarakannya-- keterangan tempat --di selembar kertas.
Kalimat ini diawali dengan subjek --kau--, yang dapat memperhitungkan
keberadaan aku lirik. Aku lirik di sini masih bersifat implisit (tidak dengan
jelas ditampilkan dalam kalimat), subjek kau adalah seseorang yang aku lirik
ceritakan dan hubungan aku lirik dengan kau di sini masih samar. Selain itu
kalimat ini menyatakan peristiwa dari kegiatan yang kau lakukan yang
berhubungan dengan doa dan menunjukan keterangan tempat.
Ia abadi di situ kalimat kedua
yang berkontruksi subjek --ia-- predikat --abadi--
keterangan tempat --di situ. Kalimat ini menunjukan kejelasan atau penegasan dari
kalimat pertama, ia di sini menuju kepada doa yang telah abadi di suatu
tempat yang tak lain adalah di selembar kertas.
Ia sudah mulai merasa tenang di lembaran
kertas yang hening ketika malam ini kau melisankannya keras-keras konstruksi dari
kalimat ketiga ini diawali dengan subjek --Ia--
predikat --sudah mulai merasa tenang-- keterangan tempat --di
lembaran kertas yang hening-- keterangan waktu --ketika malam ini kau
melisankannya keras-keras. Kalimat pertama ia masih mengacu kepada doa,
namun terdapat klausa di lembaran kertas yang hening menjelaskan
bahwa tidak hanya satu lembar kertas saja tetapi banyak, hal ini mengacu pada
kumpulan kertas atau lembaran kertas yang merupakan simbol dari sebuah buku,
dan buku yang mengandung doa lalu dilisankan ketika malam bisa tertuju kepada
kitab.
Alangkah indah bunyinya adalah kalimat
keempat yang hanya memiliki dua fungsi sintaksis yaitu predikat --alangkah
indah-- objek --bunyinya. Kalimat ini adalah kalimat
penegas dari kalimat sebelumnya, yang menegaskan bahwa doa yang dilisankan oleh
kau
sangatlah indah saat di dengar.
Tidak ada yang pernah mengatakan
padaku seperti apa sebenarnya hubunganmu dengan doa itu adalah kalimat
kelima yang merupakan kalimat terakhir. Kalimat ini memiliki dua keterangan
yaitu keterangan keadaan, yang berada di awal dan pertengahan kalimat. Berikut
konstruksi secara jelas, keterangan keadaan --tidak ada yang pernah--
predikat --mengatakan--subjek --padaku-- keterangan keadaan --seperti
apa sebenarnya-- objek --hubunganmu dengan doa itu. Kalimat ini
memunculkan aku lirik secara eksplisit yang memberikan pertanyaan mengenai
hubungan kau dengan doa. Pada kalimat ini terjawablah
siapa aku lirik dan mengapa aku lirik menceritakan kau, ternyata aku lirik
ingin mengetahui hubungan kau dengan doa yang seperti kita
tahu bahwa sebuah doa memiliki sifat religius. Oleh sebab itu tidak ada yang
tahu dengan sebenar-benarnya kecuali Sang Pencipta.
1.2. Analisis Aspek
Semantik
1.2.1. Denotasi dan
Konotasi
Doa
adalah pujian kepada Sang Pencipta untuk meminta petunjuk, keinginan, atau
permohonan kepada-Nya agar terkabul atau terpenuhi. Namun di dalam puisi ini
doa digambarkan dengan sesuatu yang seseorang lakukan dengan sungguh-sungguh
dan menyimpan doa tersebut di sebuah tempat yang disebut kitab, lalu membacanya
dengan lantang hingga terdengar indah.
Puisi
yang dituliskan oleh Sapardi Djoko Damono ini adalah puisi yang bertemakan
tentang ketuhanan. Namun, di dalam puisi ini tidak dijelaskan secara eksplisit
siapa yang berada di dalam puisi ini melainkan secara implisit. Puisi doa ini
menggambarkan seseorang yang taat kepada Sang Pencipta dan senantiasa
mengamalkan segala yang diperintahkan oleh Sang Pencipta. Seperti membaca kitab
dan berdoa ditengah malam. Selain itu puisi ini menggambarkan adanya keabadian
dan ketenangan doa di dalam lembaran kertas yang dapat kita sebut sebagai kitab.
Kau
pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di
selembar kertas merupakan kalimat pertama yang memiliki makna konotasi.
Aku lirik di sini menceritakan apa yang dilakukan oleh kau sebagai pronomina
tunggal.
Ia
abadi di situ merupakan kalimat kedua yang memliki makna denotasi. Kalimat
kedua ini masih berkesinambungan dengan kalimat pertama. Di mana “Ia” yang
dimaksud adalah doa yang dituliskan di dalam selembar kertas. Doa tersebutpun
abadi di dalam sebuah tempat “di situ” yang mengacu kepada selembar kertas.
Ia
sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau
melisankannya keras-keras
kalimat ini merupakan kalimat ketiga yang makna konotasi. Kalimat ini
masih berhungan dengan kalimat sebelumnya yang mana sebuah doa sudah meraskan
ketenang di dalam lembaran-lembaran kertas tersebut. Dan ketenangan itu
bertambah ketika “Kau” melisankannya pada saat malam hari. Kehadiran aku lirik
di sini secara implisit namun aku lirik melihat dan mendengarkan “Kau”
melisankan doa tersebut dengan keras di saat malam tiba.
Alangkah
indah bunyinya merupakan kalimat keempat yang memiliki makna denotasi.
“Aku lirik” menceritakan kepada pembaca bahwa apa yang didengar olehnya begitu
indah. Bunyi yang dimaksud adalah bunyi dari suara “Kau” yang melisankan doa.
Kalimat ini masih membahas tentang doa yang telah dituliskan pada kalimat di
depannya.
Kalimat terakhir adalah
Tidak ada yang pernah mengatakan padaku seperti apa sebenarnya hubunganmu
dengan doa itu kalimat ini bermakna denotasi. “Aku lirik” di sini
dijelaskan secara eksplisit, dan menyatakaan bahwa “aku lirik” tidak mengetahui
apa sebenarnya hubungan “Kau” dengan doa itu.
1.2.2. Majas
Dalam
puisi “Doa” karya Sapardi Djoko Damono ini tidak semua kalimat mengandung majas
atau gaya bahasa. Hanya terdapat dua kalimat yang mengandung tiga majas dalam
puisi ini, yang pertama terdapat pada kalimat pertama terdapat dua majas di
dalamnya dan majas yang kedua terdapat pada kalimat ke tiga.
Kau
pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di
selembar kertas merupakan kalimat pertama yang mengandung dua gaya
bahasa di dalamnya yaitu gaya bahasa personifikasi dan metafora. Kata
menangkap yang terdapat di dalam teks mengandung arti mengambil atau
memegang doa, sedangkan doa mempunyai wujud yang abstrak tidak mampu untuk
digenggam oleh tangan. Selain menangkap, memenjarakan juga termasuk ke dalam gaya
bahasa atau majas yaitu majas metafora.
Memenjarakan berarti mengurung, yang biasa digunakan bagi manusia maupun hewan,
dalam kalimat ini yang dimaksud yaitu doa, yang dipenjarakan di selembar
kertas. Seolah-olah kata memenjarakan memiliki analogi yang sama dengan
ketetapan Allah Swt yang telah menempatkan doa di dalam kitab. Sehingga kata
memenjarakan memiliki majas metafora.
Ia
sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau
melisankannya keras-keras merupakan kalimat kedua yang mengandung majas
personifikasi. Merasa tenang adalah pemikiran manusia yang tidak memiliki beban
atau masalah. Dalam kalimat ini menganalogikan doa yang telah tetap atau paten
dengan “merasa tenang”.
1.2.3.
Isotopi
Setiap
frasa memiliki golongan isotopinya masing-masing dan dapat menduduki satu, dua,
atau bahkan lebih isotopi. Selain itu kata penghubung tidak dapat termasuk ke
dalam golongan isotopi. Dalam puisi ini terdapat delapan isotopi yaitu isotopi
waktu, tempat, manusia, benda, gerakan, resepsi pandang, keadaan dan resepsi
dengar.
1. Isotopi
waktu
|
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna Bersama
|
|
|
Insidental
|
Berkala
|
||
|
yang hening
|
k
|
+
|
-
|
|
malam ini
|
d
|
-
|
+
|
|
baru selesai
|
d
|
-
|
+
|
|
buru-buru menangkap
|
d/k
|
+
|
-
|
|
Abadi
|
d
|
-
|
+
|
Terdapat
lima kata/frase yang mewakili isotopi waktu.kemunculan isotopi ini didominasi
oleh komponen yang menunjukkan waktu secara berkala/dapat diduga kehadirannya.
2. Isotopi Tempat
|
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna Bersama
|
|
|
Terbuka
|
Tertutup
|
||
|
selembar kertas
|
d
|
-
|
+
|
|
di situ
|
d/k
|
+
|
+
|
Terdapat
dua kata/frase yang termasuk dalam isotopi tempat. Kata tersebut menunjukkan
komponen bersama yang termasuk pada tempat terbuka dan tertutup. Namun
didominasi oleh tempat yang tertutup.
3. Isotopi
Manusia
|
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna Bersama
|
||
|
Insan
|
Berakal Budi
|
Aktivitas
|
||
|
merasa tenang
|
k
|
+
|
+
|
+
|
|
Mengatakannya
|
d
|
+
|
+
|
+
|
|
Alangkah indah
|
d
|
+
|
+
|
+
|
Terdapat tiga kata/frase yang
termasuk dalam isotopi manusia. Kata-kata yang bermunculan terbagi menjadi tiga
komponen yaitu insan, berakal budi, aktivitas. Semua kata/frase di dalam
isotopi manusia mendominasi ketiga komponen.
4. Isotopi
Benda
|
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna Bersama
|
|
|
Bergerak
|
Tidak Bergerak
|
||
|
lembaran kertas
|
d
|
-
|
+
|
Terdapat satu kata/frase yang memiliki
makna denotasi. Kata ini menunjukan kepada sebuah benda berupa kumpulan kertas
atau bisa di sebut sebagai sebuah buku yang merupakan dari kumpulan kertas.
5. Isotopi
Gerakan
|
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna Bersama
|
|
|
Gerak Badan
|
Gerak Pindah Tempat
|
||
|
menangkap doa
|
k/d
|
+
|
+
|
|
Doa
|
d
|
+
|
-
|
|
Kauucapkan
|
d
|
+
|
-
|
|
Memenjarakan
|
d/k
|
+
|
+
|
|
melisankannya keras-keras
|
d
|
+
|
-
|
Terdapat lima
kata/frase yang beberapa memiliki makna denotasi dan makna konotasi. Komponen
gerak badan merupakan komponen yang mendominasi dari isotopi gerakan ini.
6. Isotopi
Resepsi Pandang
|
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna Bersama
|
||
|
Cahaya
|
Perbuatan
|
Tertangkap Mata
|
||
|
alangkah indah
|
d
|
+
|
+
|
+
|
Terdapat satu kata/frase yang muncul
dalam isotopi resepsi pandang. Ini berhubungan dengan indera penglihatan karena
kata/frase yang terdapat di atas memiliki kompenen makna bersama yang dapat
ditangkap oleh mata namun persimbolan dari keindahan yang didengar.
7.
Isotopi
Keadaan
|
Kata/Frase yang
Memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna Bersama
|
|
|
Sepi
|
Ramai
|
||
|
Hening
|
d
|
+
|
-
|
|
Bunyinya
|
d
|
-
|
+
|
Terdapat dua kata/frase yang termasuk ke
dalam isotopi keadaan. Semua isotopi yang muncul merupakan isotopi keadaan dari
suasana disuatu tempat.
8. Isotopi Resepsi
Dengar
|
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna Bersama
|
||
|
Sasaran
|
Proses
|
Cara
|
||
|
Bunyinya
|
d
|
+
|
+
|
+
|
Terdapat satu kata/frase yang mengacu
pada isotopi alam. Kata/frase tersebut menunjukkan komponen bersama yang
termasuk dalam bunyi. Isotopi ini hanya terdiri dari satu kata/frase saja yang
menandakan adanya keterkaitan dengan indra pendengaran.
1.3. Analisis Aspek
Pragmatik
Dalam
puisi “Doa” karya Sapardi Djoko Daamono ini, aku lirik hadir sebagai pronomina
tunggal yaitu “Aku”. Di dalam puisi ini aku lirik bercerita tentang apa yang di
lakukan seseorang yang merupakan kata ganti orang ketiga. Kehadiran “aku lirik”
yang bersifat implisit bersama “Kau” memberikan gambaran bahwa adanya hubungan
yang secara tidak dijelaskan di dalam teks. Dan terdapat persona tunggal yang
hadir di dalam puisi ini yaitu “Ia”. “Ia” di sini adalah sebuah doa yang
menjadi topik utama di dalam puisi ini. Kehadiran “Aku lirik” di dalam puisi
ini sebagai pencerita dengan mendeskrpsikan apa yang tengah ia lihat dan ia
dengar.
Kau
pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di
selembar kertas merupakan kalimat pertama yang menjelaskan bahwa aku
lirik melihar seseorang yaitu “Kau” sedang mengucapkan doa dan menetapkannya di
selembar kertas agar tidak hilang.
Ia abadi di situ
merupakan kalimat kedua yang menjelaskan bahwa “Ia” adalah pronomina tunggal.
Ia yang dimaksud adalah doa, yang telah kekal di suatu tempat yaitu selembar
kertas.
Ia
sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau
melisankannya keras-keras merupakan kalimat ketiga yang menjelaskan
bahwa ia (doa) telah aman atau tentram di dalam lembaran kertas. Aku lirik di
sini kehadirannya sebagai pengamat yang mampu melihat “Kau” sedang membacakan
doa tersebut di saat malam hari.
Alangkah
indah bunyinya merupakan kalimat keempat yang menjelaskan bahwa “Aku
lirik” mendengarkan sebuah bunyi yang indah yang dihasilkan dari doa yang “Kau” bacakan.
Tidak
ada yang pernah mengatakan padaku seperti apa sebenarnya hubunganmu dengan doa
itu merupakan kelimat terakhir yang menjelaskan bahwa
kehadiran “Aku lirik” yang tidak tahu apa yang sebenarnya antara hubungan “Kau”
dengan doa.
Biodata Sapardi Djoko
Damono
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono lahir di
Surakarta , 20 maret 1940. Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Sapardi
bersekolah SD di Sekolah Dasar Kasatrian. Setelah itu ia melanjutkan ke SMP
Negeri 2 Surakarta. Pada saat itulah kegemarannya terhadap sastra mulai nampak.
Sapardi lulus dari SMA pada tahun 1955. Kemudian ia melanjutkan sekolah ke SMA
Negeri 2 Surakarta. Sapardi menulis puisi sejak duduk di kelas 2 SMA. Karyanya
dimuat pertama kali oleh sebuah suat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian,
karya sastranya berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra,
majalah budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Sapardi lulus dari SMA
pada tahun 1958.
Setelah lulus SMA, Sapardi melanjutkan
pendidikan di jurusan Sastra Barat FS&K di Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Setelah lulus kuliah, selain menjadi penyair ia juga melaksanakan
cita-cita lamanya untuk menjadi dosen. Ia meraih gelar sarjana sastra tahun
1964. Kemudian Sapardi memperdalam pengetahuan di Universitas Hawaii, Honolulu,
Amerika Serikat (1970-1971) dan meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia
(1989). Setelah itu, Sapardi mengajar di IKIP Malang cabang Madiun selama empat
tahun. Kemudian dilanjutkan di Universitas Diponegoro , Semarang, juga selama
empat tahun. Sejak tahun 1974, Sapardi mengajar di FS UI. Beberapa karyanya
yang sudah ada di tengah masyarakat antara lain DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau
dan Aquarium (1974). Sapardi juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya
Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. (1978).
Para pengamat menilai sajak-sajak
Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian
dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut
tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984. Sebuah
karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu
Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan
sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit – memperoleh
Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp
6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung
dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh penghargaan SEA
Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.
Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta
(DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur
Basis dan kini bekerja di redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra
ada dua segi: tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya,
sudah ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak. Selain
melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik sastra, artikel
serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan terjemahannya itu,
Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap pengembangan sastra di Tanah Air.
Selain dia menjembatani karya asing kepada pembaca sastra, ia patut dihargai
sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru. Sumbangsih Sapardi juga cukup
besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber
dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan pengajar, serta
menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas
pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.
Beberapa puisinya sangat populer dan
banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait
pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti,
Akulah si Telaga, Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari dan masih banyak lagi.
Daftar
Pustaka:
Ardyatama, Niko. 2012. “Biografi Sapardi Djoko Damono”. http://ardyatamaniko.blogspot.co.id/2012/11/biografi-sapardi-djoko-damono.html?m=1.
06 Desember 2017.
Damono,
Sapardi Djoko. 2015. “Melipat Jarak”.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
“Terima kasih
sudah membaca dan terima kasih kepada beberapa sumber baik yang saya dapat.”
Komentar
Posting Komentar