Langsung ke konten utama

Analisis Semiotika Puisi “Doa” Karya Sapardi Djoko Damono


Analisis Semiotika Puisi “Doa” Karya Sapardi Djoko Damono

Analisis ini saya buat karena puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Doa” diksinya sangatlah sederhana namun kaya akan makna. Oleh karena itu saya tertarik untuk menganaisisnya lebih dalam dengan kajian semotika. Semoga dengan analisis puisi ini bisa menambah wawasan dan memberikan manfaat bagi pembaca baik akademik maupun sebatas pengetahuan. Berikut adalah analisis semiotika puisi “Doa” karya Sapardi Djoko Damono.

Doa        

Kau pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai
kauucapkan dan memenjarakannya di selembar kertas. Ia
abadi di situ.
Ia sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang
hening ketika malam ini kau melisankannya keras-keras.
Alangkah indah bunyinya.
       Tidak ada yang pernah mengatakan padaku seperti
apa sebenarnya hubunganmu dengan doa itu.


1.      Kajian Semiotika “Doa”
1.1. Analisis Aspek Sintaksis
Jika dilihat dari tipografinya puisi “Doa” terdiri atas tiga bait dengan jumlah larik di setiap baitnya berbeda, bait pertama berjumlah dua larik, bait ke dua berjumlah dua larik pula, sedangkan bait ke tiga berjumlah satu larik. Huruf  awal disetiap lariknya menggunakan huruf kapital dan ditemukan lima tanda baca final yang letaknya berada di setiap lariknya. Selain itu puisi ini memiliki dua larik yang dicetak miring, larik pertama yang bercetak miring adalah larik kedua dan larik keempat, yaitu --ia abadi di situ-- dan larik --alangkah indah bunyinya-- larik ini dicetak miring sebagai tanda bahwa larik itu merupakan penegasan dari larik di depannya. Puisi ini berbeda dengan yang lain, puisi ini berbentuk paragraf dan untuk membedakan mana bait dan mana larik, maka setiap satu paragraf adalah satu bait dan setiap satu kalimat adalah satu larik. Namun begitu analisis puisi ini didasarkan pada keutuhan makna, ditemukanlah bahwa puisi ini terdiri atas lima kalimat yang seluruhnya merupakan kalimat tunggal.
Kau pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di selembar kertas adalah kalimat pertama yang memiliki konstruksi sebagai berikut, subjek --kau pun-- predikat --buru-buru menangkap--  objek --doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya-- keterangan tempat --di selembar kertas. Kalimat ini diawali dengan subjek --kau--, yang dapat memperhitungkan keberadaan aku lirik. Aku lirik di sini masih bersifat implisit (tidak dengan jelas ditampilkan dalam kalimat), subjek kau adalah seseorang yang aku lirik ceritakan dan hubungan aku lirik dengan kau di sini masih samar. Selain itu kalimat ini menyatakan peristiwa dari kegiatan yang kau lakukan yang berhubungan dengan doa dan menunjukan keterangan tempat.
Ia abadi di situ kalimat kedua yang berkontruksi subjek --ia-- predikat --abadi-- keterangan tempat --di situ. Kalimat ini menunjukan kejelasan atau penegasan dari kalimat pertama, ia di sini menuju kepada doa yang telah abadi di suatu tempat yang tak lain adalah di selembar kertas.
Ia sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau melisankannya keras-keras konstruksi dari kalimat ketiga ini diawali dengan subjek --Ia-- predikat --sudah mulai merasa tenang-- keterangan tempat --di lembaran kertas yang hening-- keterangan waktu --ketika malam ini kau melisankannya keras-keras. Kalimat pertama ia masih mengacu kepada doa, namun terdapat klausa di lembaran kertas yang hening menjelaskan bahwa tidak hanya satu lembar kertas saja tetapi banyak, hal ini mengacu pada kumpulan kertas atau lembaran kertas yang merupakan simbol dari sebuah buku, dan buku yang mengandung doa lalu dilisankan ketika malam bisa tertuju kepada kitab.
Alangkah indah bunyinya adalah kalimat keempat yang hanya memiliki dua fungsi sintaksis yaitu predikat --alangkah indah-- objek --bunyinya. Kalimat ini adalah kalimat penegas dari kalimat sebelumnya, yang menegaskan bahwa doa yang dilisankan oleh kau sangatlah indah saat di dengar.
Tidak ada yang pernah mengatakan padaku seperti apa sebenarnya hubunganmu dengan doa itu adalah kalimat kelima yang merupakan kalimat terakhir. Kalimat ini memiliki dua keterangan yaitu keterangan keadaan, yang berada di awal dan pertengahan kalimat. Berikut konstruksi secara jelas, keterangan keadaan --tidak ada yang pernah-- predikat --mengatakan--subjek --padaku-- keterangan keadaan --seperti apa sebenarnya-- objek --hubunganmu dengan doa itu. Kalimat ini memunculkan aku lirik secara eksplisit yang memberikan pertanyaan mengenai hubungan kau dengan doa. Pada kalimat ini terjawablah siapa aku lirik dan mengapa aku lirik menceritakan kau, ternyata aku lirik ingin mengetahui hubungan kau dengan doa yang seperti kita tahu bahwa sebuah doa memiliki sifat religius. Oleh sebab itu tidak ada yang tahu dengan sebenar-benarnya kecuali Sang Pencipta.

1.2. Analisis Aspek Semantik
1.2.1. Denotasi dan Konotasi
            Doa adalah pujian kepada Sang Pencipta untuk meminta petunjuk, keinginan, atau permohonan kepada-Nya agar terkabul atau terpenuhi. Namun di dalam puisi ini doa digambarkan dengan sesuatu yang seseorang lakukan dengan sungguh-sungguh dan menyimpan doa tersebut di sebuah tempat yang disebut kitab, lalu membacanya dengan lantang hingga terdengar indah.
            Puisi yang dituliskan oleh Sapardi Djoko Damono ini adalah puisi yang bertemakan tentang ketuhanan. Namun, di dalam puisi ini tidak dijelaskan secara eksplisit siapa yang berada di dalam puisi ini melainkan secara implisit. Puisi doa ini menggambarkan seseorang yang taat kepada Sang Pencipta dan senantiasa mengamalkan segala yang diperintahkan oleh Sang Pencipta. Seperti membaca kitab dan berdoa ditengah malam. Selain itu puisi ini menggambarkan adanya keabadian dan ketenangan doa di dalam lembaran kertas yang dapat kita sebut sebagai kitab.
            Kau pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di selembar kertas merupakan kalimat pertama yang memiliki makna konotasi. Aku lirik di sini menceritakan apa yang dilakukan oleh kau sebagai pronomina tunggal.
            Ia abadi di situ merupakan kalimat kedua yang memliki makna denotasi. Kalimat kedua ini masih berkesinambungan dengan kalimat pertama. Di mana “Ia” yang dimaksud adalah doa yang dituliskan di dalam selembar kertas. Doa tersebutpun abadi di dalam sebuah tempat “di situ” yang mengacu kepada selembar kertas.
            Ia sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau melisankannya keras-keras  kalimat ini merupakan kalimat ketiga yang makna konotasi. Kalimat ini masih berhungan dengan kalimat sebelumnya yang mana sebuah doa sudah meraskan ketenang di dalam lembaran-lembaran kertas tersebut. Dan ketenangan itu bertambah ketika “Kau” melisankannya pada saat malam hari. Kehadiran aku lirik di sini secara implisit namun aku lirik melihat dan mendengarkan “Kau” melisankan doa tersebut dengan keras di saat malam tiba.
            Alangkah indah bunyinya merupakan kalimat keempat yang memiliki makna denotasi. “Aku lirik” menceritakan kepada pembaca bahwa apa yang didengar olehnya begitu indah. Bunyi yang dimaksud adalah bunyi dari suara “Kau” yang melisankan doa. Kalimat ini masih membahas tentang doa yang telah dituliskan pada kalimat di depannya.
Kalimat terakhir adalah Tidak ada yang pernah mengatakan padaku seperti apa sebenarnya hubunganmu dengan doa itu kalimat ini bermakna denotasi. “Aku lirik” di sini dijelaskan secara eksplisit, dan menyatakaan bahwa “aku lirik” tidak mengetahui apa sebenarnya hubungan “Kau” dengan doa itu.

1.2.2. Majas
            Dalam puisi “Doa” karya Sapardi Djoko Damono ini tidak semua kalimat mengandung majas atau gaya bahasa. Hanya terdapat dua kalimat yang mengandung tiga majas dalam puisi ini, yang pertama terdapat pada kalimat pertama terdapat dua majas di dalamnya dan majas yang kedua terdapat pada kalimat ke tiga.
            Kau pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di selembar kertas merupakan kalimat pertama yang mengandung dua gaya bahasa di dalamnya yaitu gaya bahasa personifikasi dan metafora. Kata menangkap yang terdapat di dalam teks mengandung arti mengambil atau memegang doa, sedangkan doa mempunyai wujud yang abstrak tidak mampu untuk digenggam oleh tangan. Selain menangkap, memenjarakan juga termasuk ke dalam gaya bahasa atau majas yaitu majas  metafora. Memenjarakan berarti mengurung, yang biasa digunakan bagi manusia maupun hewan, dalam kalimat ini yang dimaksud yaitu doa, yang dipenjarakan di selembar kertas. Seolah-olah kata memenjarakan memiliki analogi yang sama dengan ketetapan Allah Swt yang telah menempatkan doa di dalam kitab. Sehingga kata memenjarakan memiliki majas metafora.
            Ia sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau melisankannya keras-keras merupakan kalimat kedua yang mengandung majas personifikasi. Merasa tenang adalah pemikiran manusia yang tidak memiliki beban atau masalah. Dalam kalimat ini menganalogikan doa yang telah tetap atau paten dengan “merasa tenang”.
1.2.3. Isotopi 
Setiap frasa memiliki golongan isotopinya masing-masing dan dapat menduduki satu, dua, atau bahkan lebih isotopi. Selain itu kata penghubung tidak dapat termasuk ke dalam golongan isotopi. Dalam puisi ini terdapat delapan isotopi yaitu isotopi waktu, tempat, manusia, benda, gerakan, resepsi pandang, keadaan dan resepsi dengar.
1. Isotopi waktu
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Insidental
Berkala
yang hening
k
+
-
malam ini
d
-
+
baru selesai
d
-
+
buru-buru menangkap
d/k
+
-
Abadi
d
-
+

Terdapat lima kata/frase yang mewakili isotopi waktu.kemunculan isotopi ini didominasi oleh komponen yang menunjukkan waktu secara berkala/dapat diduga kehadirannya.
2. Isotopi Tempat
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Terbuka
Tertutup
selembar kertas
d
-
+
di situ
d/k
+
+

Terdapat dua kata/frase yang termasuk dalam isotopi tempat. Kata tersebut menunjukkan komponen bersama yang termasuk pada tempat terbuka dan tertutup. Namun didominasi oleh tempat yang tertutup.




3. Isotopi Manusia
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Insan
Berakal Budi
Aktivitas
merasa tenang
k
+
+
+
Mengatakannya
d
+
+
+
Alangkah indah
d
+
+
+

            Terdapat tiga kata/frase yang termasuk dalam isotopi manusia. Kata-kata yang bermunculan terbagi menjadi tiga komponen yaitu insan, berakal budi, aktivitas. Semua kata/frase di dalam isotopi manusia mendominasi ketiga komponen.

4. Isotopi Benda
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Bergerak
Tidak Bergerak
lembaran kertas
d
-
+

Terdapat satu kata/frase yang memiliki makna denotasi. Kata ini menunjukan kepada sebuah benda berupa kumpulan kertas atau bisa di sebut sebagai sebuah buku yang merupakan dari kumpulan kertas.
5. Isotopi Gerakan
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Gerak Badan
Gerak Pindah Tempat
menangkap doa
k/d
+
+
Doa
d
+
-
Kauucapkan
d
+
-
Memenjarakan
d/k
+
+
melisankannya keras-keras
d
+
-
                   
Terdapat lima kata/frase yang beberapa memiliki makna denotasi dan makna konotasi. Komponen gerak badan merupakan komponen yang mendominasi dari isotopi gerakan ini.

6. Isotopi Resepsi Pandang
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Cahaya
Perbuatan
Tertangkap Mata
alangkah indah
d
+
+
+

Terdapat satu kata/frase yang muncul dalam isotopi resepsi pandang. Ini berhubungan dengan indera penglihatan karena kata/frase yang terdapat di atas memiliki kompenen makna bersama yang dapat ditangkap oleh mata namun persimbolan dari keindahan yang didengar.
7.      Isotopi Keadaan
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Sepi
Ramai
Hening
d
+
-
Bunyinya
d
-
+

Terdapat dua kata/frase yang termasuk ke dalam isotopi keadaan. Semua isotopi yang muncul merupakan isotopi keadaan dari suasana disuatu tempat.



8. Isotopi Resepsi Dengar
Kata/Frase yang Memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Sasaran
Proses
Cara
Bunyinya
d
+
+
+
Terdapat satu kata/frase yang mengacu pada isotopi alam. Kata/frase tersebut menunjukkan komponen bersama yang termasuk dalam bunyi. Isotopi ini hanya terdiri dari satu kata/frase saja yang menandakan adanya keterkaitan dengan indra pendengaran.
1.3. Analisis Aspek Pragmatik
            Dalam puisi “Doa” karya Sapardi Djoko Daamono ini, aku lirik hadir sebagai pronomina tunggal yaitu “Aku”. Di dalam puisi ini aku lirik bercerita tentang apa yang di lakukan seseorang yang merupakan kata ganti orang ketiga. Kehadiran “aku lirik” yang bersifat implisit bersama “Kau” memberikan gambaran bahwa adanya hubungan yang secara tidak dijelaskan di dalam teks. Dan terdapat persona tunggal yang hadir di dalam puisi ini yaitu “Ia”. “Ia” di sini adalah sebuah doa yang menjadi topik utama di dalam puisi ini. Kehadiran “Aku lirik” di dalam puisi ini sebagai pencerita dengan mendeskrpsikan apa yang tengah ia lihat dan ia dengar.
            Kau pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di selembar kertas merupakan kalimat pertama yang menjelaskan bahwa aku lirik melihar seseorang yaitu “Kau” sedang mengucapkan doa dan menetapkannya di selembar kertas agar tidak hilang.
Ia abadi di situ merupakan kalimat kedua yang menjelaskan bahwa “Ia” adalah pronomina tunggal. Ia yang dimaksud adalah doa, yang telah kekal di suatu tempat yaitu selembar kertas.
            Ia sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau melisankannya keras-keras merupakan kalimat ketiga yang menjelaskan bahwa ia (doa) telah aman atau tentram di dalam lembaran kertas. Aku lirik di sini kehadirannya sebagai pengamat yang mampu melihat “Kau” sedang membacakan doa tersebut di saat malam hari.
            Alangkah indah bunyinya merupakan kalimat keempat yang menjelaskan bahwa “Aku lirik” mendengarkan sebuah bunyi yang indah yang dihasilkan  dari doa yang “Kau” bacakan.
Tidak ada yang pernah mengatakan padaku seperti apa sebenarnya hubunganmu dengan doa itu merupakan kelimat terakhir yang menjelaskan bahwa kehadiran “Aku lirik” yang tidak tahu apa yang sebenarnya antara hubungan “Kau” dengan doa.

Biodata Sapardi Djoko Damono
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta , 20 maret 1940. Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Sapardi bersekolah SD di Sekolah Dasar Kasatrian. Setelah itu ia melanjutkan ke SMP Negeri 2 Surakarta. Pada saat itulah kegemarannya terhadap sastra mulai nampak. Sapardi lulus dari SMA pada tahun 1955. Kemudian ia melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 2 Surakarta. Sapardi menulis puisi sejak duduk di kelas 2 SMA. Karyanya dimuat pertama kali oleh sebuah suat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Sapardi lulus dari SMA pada tahun 1958.
Setelah lulus SMA, Sapardi melanjutkan pendidikan di jurusan Sastra Barat FS&K di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Setelah lulus kuliah, selain menjadi penyair ia juga melaksanakan cita-cita lamanya untuk menjadi dosen. Ia meraih gelar sarjana sastra tahun 1964. Kemudian Sapardi memperdalam pengetahuan di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat (1970-1971) dan meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia (1989). Setelah itu, Sapardi mengajar di IKIP Malang cabang Madiun selama empat tahun. Kemudian dilanjutkan di Universitas Diponegoro , Semarang, juga selama empat tahun. Sejak tahun 1974, Sapardi mengajar di FS UI. Beberapa karyanya yang sudah ada di tengah masyarakat antara lain DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974). Sapardi juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. (1978).
Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984. Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit – memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.
Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak. Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru. Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari dan masih banyak lagi.

Daftar Pustaka:
Ardyatama, Niko. 2012. “Biografi Sapardi Djoko Damono”. http://ardyatamaniko.blogspot.co.id/2012/11/biografi-sapardi-djoko-damono.html?m=1. 06 Desember 2017.
Damono, Sapardi Djoko. 2015. “Melipat Jarak”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



“Terima kasih sudah membaca dan terima kasih kepada beberapa sumber baik yang saya dapat.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL” (Oleh Saskia Monalisa) Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.   Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi. *** Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja...

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)

JELMAAN (Karya: Saskia Monalisa)             Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.             Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. K...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...