Langsung ke konten utama

Diskusi Literasi Bersama Erisca Febriani di Universitas Singaperbangsa Karawang

“Diskusi Literasi Bersama Erisca Febriani di Universitas Singaperbangsa Karawang”
Oleh Saskia Monalisa






Bemsika PBSI (Bengkel Menulis dan Kreativitas PBSI) mengadakan acara "Diskusi Literasi" di Aula Universitas Singaperbangsa Karawang dengan mengusung tema "Menumbuhkan Semangat Literasi Untuk Menciptakan Sebuah Karya". Acara ini dibintang tamui oleh penulis terkenal dan bahkan beberapa karyanya sudah difilmkan, yaitu Erisca Febriani. Perserta yang hadir sekitar 300 peserta memenuhi Aula Universitas Singaperbangsa Karawang. Beberapa diantaranya adalah siswa SMA dan mahasiswa dari universitas lain. "Acara ini sudah dirancang sejak empat bulan yang lalu dengan tema dan konsep yang matang. Hingga akhirnya pada tanggal 22 September 2019 acara ini bisa terlaksanakan. Tujuan dari diadakannya acara ini yaitu untuk meningkatkan budaya literasi pada kaum milenial, khususnya di daerah Karawang dan untuk menumbuhkan semangat literasi dengan memanfaatkan media sosial." ujar Fernanda selaku ketua pelaksana.
Pada saat itu Erisca datang bersama adik perempuannya, dan sempat mengabadikan acara Diskusi Literasi dengan foto bersama peserta dan pembina Bemsika Ibu Dian Hartati dengan penuh semangat. Moment paling menarik dari acara ini yaitu diadakannya diskusi kecil. Di mana para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diarahkan oleh beberapa mentor. Beberapa mentor dari diskusi kecil sendiri adalah para pengurus Bemsika dan para demisioner Bemsika yang sudah lulus kuliah. Pada diskusi kecil tersebut membicarakan beberapa pertanyaan mengenai literasi dan kegiatan tulis menulis.
“... Anyway, thank you @bemsika_ udah undang saya,senang ketemu sama orang-orang yang antusias dan sehobi!” tulis Erisca Ferbriani dalam akun instagramnya @eriscafebriani. Semoga dengan diadakannya acara Diskusi Literasi tersebut mampu menginspirasi para penerus bangsa untuk berkarya dan menggunakan media sosial lebih bermanfaat lagi. Seperti apa yang dilakukan oleh Erisca Febriani. Salam literasi! (BungaMentari  23/09/2019).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL” (Oleh Saskia Monalisa) Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.   Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi. *** Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja...

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)

JELMAAN (Karya: Saskia Monalisa)             Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.             Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. K...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...