Resensi Buku Kumpulan Cerpen “Bidadari yang Mengembara”
Karya A.S Laksana
Penulis :
A.S Laksana
Judul :
Bidadari yang Mengembara
Tahun Terbit :
2014
Penerbit :
Gagas Media
Tempat :
Jakarta Selatan
Kumpulan
cerpen ini berisikan 12 cerpen yang bertemakan kisah cinta, diri sendiri,
keluarga, dan masyarakat atau konflik sosial. Judul-judul cerpen dari buku ini
yaitu:
1. Menggambar Ayah
2. Bidadari yang
Mengembara
3. Seorang Ibu yang
Menunggu atau Sangkuriang
4. Burung di Langit
dan Sekaleng Lem
5. Seekor Ular di
Dalam Kepala
6. Telepon dari Ibu
7. Buldoser
8. Seto Menjadi
Kupu-kupu
9. Bangkai Anjing
10. Rumah Unggas
11. Peristiwa Pagi Hari
12. Cerita Tentang Ibu yang Dikerat
Mungkin aku hanya menceritakan sekilas
saja dari ke-12 cerpen tersebut, agar kalian makin penasaran dengan buku ini
dan membacanya langsung. Selain itu aku tidak menjelaskan unsur intrinsik
cerpen secara keseluruhan, namun akan dibahas sekilas saja. Jujur buku ini
membuat aku terhibur dan dibeberapa cerpen sempat sangat merasa sedih sekali
membacanya, terutama cerpen yang bertemakan keluarga atau persisnya orang tua.
Oke langsung saja, aku akan memaparkan satu persatu cerpen di atas.
1. Menggambar Ayah
Cerpen
ini menceritakan kebencian seorang ibu kepada anaknya yang lahir dari rahimnya.
Tokoh utama dalam cerita ini yaitu seorang anak yang berumur sepuluh tahun,
yang tidak disebutkan namanya. Anak ini sudah disiksa oleh ibunya sedari ia
berumur empat bulan dalam kandungan. Tokoh utama menceritakan betapa sulitnya
ia bertahan hidup, dengan ditemani oleh teman-temannya yaitu makhluk-makhluk putih
yang diperintahkan untuk menjaganya (begitulah tuturnya). Segala macam obat-obatan yang dikonsumsi oleh
ibunya adalah usahnya untuk mengeluarkan anak itu sebelum membesar, namun
usahanya sia-sia. Hingga lahirlah anak itu
ke bumi dan ibunya membesarkannya dengan penuh kemarahan.
Anak
itu dikurung di dalam kamar dan tak pernah diajarkan apapun oleh ibunya,
termasuk mengenalkannya sosok seorang ayah. Oleh karena itu, anak ini sedikit
mengalami gangguan jiwa dan menggambar bapaknya dengan bentuk yang tidak seharusnya.
Anak itu menggambarkan bapaknya dengan bentuk p*n*s. Siapapun yang membacanya mungkin akan
tertawa, atau hanya sekedar tersenyum keheranan. Konflik yang disuguhkan yaitu
saat anaknya menggambarkan bapaknya disalah satu tembok milik tetangga. Hingga
pada akhirnya anak itu dimarahi oleh ibunya dan anak itu mengusir ibunya ke
puncak gunung.
2. Bidadari yang Mengembara
Cerita
ini diawali oleh perjalanan Alit yang pergi dari kota asalnya Semarang.
Perjalanannya sangatlah mengenaskan. Pada awalnya Alit mengalami kecopetan,
lalu ia mencari copet itu dengan cara mengenali tangannya. Namun naas, Alit
malah dituduh memperkosan seorang perempuan hingga akhirnya Alit dipukuli dan
diinjak-injak hingga dadanya memar. Selama perjalanan pulangnya A.S Laksana
(Pengarang), menceritakan sebuah imaji binatang yang bisa berbicara yaitu
burung bangau. Serta menambahkan sebuah filosofi tentang tulang rusuk laki-laki
yang hilang.
Selama
tujuh hari, Alit baru tiba di kosannya dengan tubuh bak seonggok sampah. Lalu
Alit meminta tukang urut untuk mengurut dadanya yang memar. Tukang urut itu
seorang perempuan yang sudah berumur 42 tahun dengan hidung yang meleset.
Katanya akibat tertabak oleh bemo dahulu.
Pada
saat tukang urut itu menuangkan minyak urut, Alit tak tahan dengan baunya,
hingga Alit pun pingsan. Alit bermimpi dan memanggil-manggil nama Nita, seorang
wanita canitik bak bidadari. Sejak saat itu tukang urut itu menganggap bahwa
Nita adalah dirinya dan Alit menyukainya. Lantas Alit pun pergi entah kemana,
dan Nita mengembara pergi mencari Alit hingga ke Semarang tempat Alit tinggal.
3. Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang
Cerpen
ini menceritakan tentang seorang anak yang bertanya kepada ibunya yang sedang
hamil. Ia bertanya“Dari mana bayi keluar, Ibu?” namun ibunya menjawab dengan
jawaban yang berbelit dan membuat anaknya kesal. Sehingga anak itu pergi selama
berminggu-minggu. Ayahnya tak pernah pulang. Hingga ibunya hanya sendiri di
rumah bersama anak yang sedang dikandungnya. Berbagai pikiran jelek terbesit di
dalam pikirannya membayangkan anaknya yang seorang diri pergi di luar dan tak
tahu pergi ke mana.
Tiba
pada minggu kelima, akhirnya anak itu pulang dan bertanya “Lewat mana bayi
lahir, ibu? Aku ingin mengintip dia sekarang.” Pertanyaan yang sama dan dengan
sebuah keinginan yang mengguncangkan hati ibunya. Selain itu anaknya membawa
sebuah kaca pembesar yang sudah ia cari selama berminggu-minggu untuk melihat
bayi itu. Hingga pada akhirnya anak itu memaksa ibunya dan ibunya membacakan
mantra-mantra meminta pertolongan agar anak yang dirindukannya kembali.
4. Burung di Langit dan Sekaleng Lem
Menceritakan
tentang seorang gelandangan atau tuna wisma yang tak punya tempat tinggal
kecuali di jalanan. Namun, polisi malah menangkapnya lantaran tuna wisma itu
luntang-lantung di jalanan pada malam hari. Hingga akhirnya tuna wisma itu
ditanggap dan introgasi oleh polisi. Polisi menanyakan surat-surat kepada tuna
wisma tersebut, kata-kata yang membuarku tertawa adalah “Menurutku, orang tidak
usah mengirimkan surat lamaran untuk menjadi gelandangan.” Seakan-akan aku
membenarkan pernyataan itu. Memang.
Setelah
tiga hari tuna wisma itu berada di kantor polisi, akhirnya dibebaskan juga.
Tuna wisma itu sekitar berumur sebelas sampai tiga belas tahun. Dia berkelana
di jalanan, hingga ke sebuah pasar. Dia menemukan sebuah gedung yang dahulu
pernah terjadi kebakaran dan ternyata di sana banyak yang membuat tempat
tinggal atau tempat sekedar berkumpul untuk menciumi lem dan sebagainya.
Menurutnya lebih baik membeli lem dan mencium aromanya dari pada uangnya
dibelikan untuk makan. Karena lem bisa membuatnya menahan lapar hingga beberapa
hari.
5. Seekor Ular di Dalam Kepala
Sebenarnya
cerita ini adalah sebuah metafor yang digunakan oleh pengarang untuk
menceritakan istri yang bermain atau selingkuh di luar dengan laki-laki lain.
Seperti itu yang aku pahami, karena ceritanya sangat mustahil dan aneh. Boleh
jadi pengarang hanya mengumpamakan sebuah awal perselingkuhan dengan sebuah
ular yang masuk ke dalam telinga dan masuk ke dalam otaknya, meracuni isi
pikirannya hingga lupa dengan suaminya.
Jadi,
cerpen ini bercerita tentang seorang istri yang biasa dipanggil Lin dan
suaminya yang biasa dipanggil Rob. Lin merasakan ada seekor ular yang masuk ke
dalam telinganya dan mengganggu pikirannya. Lin menjadi aneh dan terkadang
menghayal yang tak lazim. Ular itu mengajaknya untuk memetik apel dan
sebagainya. Hingga suaminya memintanya untuk ke psikiater untuk mengecek
kejiwaan Lin. Akhir cerita istrinya selingkuh dengan dokter psikiater tersebut.
Lalu, Rob menyiapkan alat untuk memecahkan isi kepala Lin nanti malam.
6. Telpon dari Ibu
Cerpen
ini menceritakan pasangan suami istri yang sama-sama sibuk dengan rutinitasnya
sendiri. Istrinya menceritakan sahabatnya yang setelah menikah pergi ke luar
negeri dan tanpa keluarga satu pun di sana. Setelah itu menceritakan
pernikahannya yang tidak direstui oleh kedua belah pihak. Mereka menikah dengan
keyakinan yang berbeda dan bagaikan pasangan yang kawin lari.
Perihal
kehamilannya yang kedua kalinya, setelah mengalami kegagalan pada anaknya yang
meninggal karena keguguran saat ditugasi perjalanan ke luar kota. Lalu
menceritakan sebuah kerinduannya kepada ibunya. Karena ibu menelpon dan
bertanya prihal barang yang tertinggal di rumah. Kutipan yang paling aku suka
dari cerpen ini yaitu “ Pada saatnya nanti, ia akan bisa menceritakan kepada
anaknya tentang neneknya – sebuah akar dari mana pohon keluarga mendapatkan
kekuatannya- yang suka menanyakan hal-hal yang sudah berlalu bertahun-tahun.”
7. Buldoser
Cerita
ini menurutku sangatlah menyedihkan, sepanjang hidup ayahnya diburu oleh
Buldoser. Sampai saat kematiannya pun ayahnya masih diburu oleh Buldoser itu.
Cerita ini diawali oleh cerita Alit yang merasakan kedatangan sosok Ayahnya
yang sudah meninggal. Alit bercerita tentang kebiasaannya bersama Ayahnya dan
pertanyaan yang selalu diajukan oleh Ayahnya sewaktu kecil. Tentang pertanyaan
“Kamu ingin menjadi apa kelak, Alit?”
dan Alit menjawab “Menjadi dokter Yah!”.
Tetapi
semenjak Alit duduk di bangku kelas dua SMP, sekolah Alit terganggu karena
penggusuran. Semua masyarakat geram bahkan melakukan beberapa aksi nihilnya.
Hingga Alit pun pindah ke rumah neneknya. Dengan segala keresahan yang Alit
rasakan tinggal bersama neneknya yang cerewet dan selalu batuk-batuk. Namun,
ketika Alit duduk di bangku kelas tiga SMA, Buldoser itu seakan-akan memburu
mereka kembali, rumah yang didirikan dipekarangan rumah neneknya terpaksa harus
digusur untuk perluasan jalan. Ayahnya masih tabah, hingga Ayah Alit meninggal.
Di
dalam mimpi Alit bertemu dengan Ayahnya dan berpesan untuk menemui adiknya
segera. Ternyata kabar menyakitkan yang disampaikan adiknya membuat Alit kesal.
Makam Ayahnya terpaksa harus dipindahkan, karena ada proyek jalan arteri. “Dan
Ayah! Ia terus dikejar-kejar buldoser. Bahkan, sampai tiba waktu baginya untuk
beristirahat...”.
8. Seto Menjadi Kupu-kupu
Sebenarnya
cerpen ini adalah cerpen yang sangat sulit aku habiskan, entah mengapa. Mungkin
jika kalian yang membaca akan mengetahui masalahnya, ada pada diriku atau isi
cerita. Oke, jadi cerpen ini menceritakan kegilaan Seto terhadap seorang
perempuan anak tukang martabak. Selain itu Seto juga seorang yang sangat
percaya terhadap sebuah ramalan dan Seto mengikuti semua jenis petunjuk ramalan
itu agar hidupnya baik dan bisa mendapatkan perempuan anak tukang martabak itu.
Ceritanya
panjang sekali, mulai dari Seto yang selalu beli martabak dan bilang bahwa ia
sangat menyukai martabak. Lalu menceritakan pindahnya perempuan itu, bacaan
bukunya yang banyak mengenai ramalan yang menurutku membuang-buang waktu, jika
aku menjadi Seto. Sayangnya aku tidak mau hehe. Hingga akhirnya Seto tak
terlihat di dalam kamarnya dan hanya tersisa kupu-kupu di dalam kamar itu.
Orang bilang Seto berubah menjadi kupu-kupu. Mungkin cerpen ini menggambarkan
seorang laki-laki yang tak mampu untuk menyatakan cintanya secara laki kepada
wanita yang ia sukai. Hingga pengarang mengibaratkannya sebagai kupu-kupu atau
bisa jadi sebagai cupu-cupu.
9. Bangkai
Anjing
Wah
cerita ini sangat mengesankan, sebuah cerita yang tidak bisa aku tebak kemana
alur akan membawanya bertandang hingga berakhir. Cerita ini diawali oleh
kejadian di kantor tempat Alit bekerja, ia bekerja sebagai seorang wartawan.
Saat itu kepala sangat sakit ketika dipaksa untuk membuat sebuah berita. Berita
yang memalukan. Lalu dilanjut dengan cerita Ayahnya yang tak pernah Alit akui
sebagai seorang Ayah kepada teman atau kepada siapa pun. Karena tubuh Ayahnya
yang bengkak-bengkak dan wajahnya yang buruk seperti mainan plastik yang
terbakar.
Namun
Alit sangat senang jika diajak Ayahnya ke taman atau dibelikan mainan. Tetapi
meski mereka pergi berdua, mereka tidak pernah berjalan secara berdampingan,
Alit selalu berjarak jauh oleh Ayahnya, karena hawatir orang lain tahu bahwa ia
adalah anak dari Ayah yang buruk rupa itu. Alit juga menceritakan tidak pernah
bertanya kepada kedua kakaknya (semua laki-laki) saat berjalan bersama dengan
Ayahnya bagaimana, karena kakaknya pun tak pernah mengajak teman-temannya untuk
datang ke rumah.
Ayah
dan ibunya sudah bercerai, namun ketiga anaknya mengikuti ayahnya dengan
terpaksa dan dengan menahan malu yang ditahan-tahan. Kakaknya pergi
meninggalkan ayahnya secara bergantian, hingga akhirnya Alit pun meninggalkan
ayahnya sendirian. Namun sang ayah tidak masalah dengan kepergian Alit. Jujur
dibagaian ini sangat menyedihkan, dialog yang sangat menusuk relung hati. Bagi
kamu pembaca yang sayang sekali dengan kedua orang tua kalian pasti akan
menitikan air mata.
Saat
kepergian Alit, tiba-tiba ada anjing yang tertabrak dan bangkai anjing itu
dibawa oleh anak-anak berandalan untuk disantap. Sebuah tanda yang tidak
menjadi masalah untuk Alit pada saat itu. Akhirnya Alit pun menjadi wartawan
dan bertugas untuk menyelidiki sebuah kegiatan seorang waria di salah satu
tempat. Segala rintangan ia lewati demi mendapatkan informasi. Hingga Alit mendengar
kabar bahwa sebenarnya ada seorang waria yang bekerja sebagai supir truk. Tanpa
pikir panjang Alit pun ingin sekali mendapatkan informasi seorang waria supir
truk itu. Hingga akhirnya Alit bertemu dan ternyata waria itu adalah orang yang
sangat ia kenal sedari kecil. Dia adalah kakaknya sendiri. Alit sangat muak
melihat kakaknya itu, bagaikan bangkai anjing. Namun, setelah beberapa hari
terdengar kabar bahwa ada seorang waria yang bunuh diri, yang tak lain adalah
kakaknya.
10. Rumah Unggas
Rumah
unggas, benar-benar rumahnya unggas. Seorang bapak yang memelihara
bermacam-macam jenis unggas di dalam rumahnya, hingga kotorannya pun bercampur
baur di dalam rumah itu. Ceritanya cukup panjang dan luas sekali
menceritakannya. Tetapi yang pasti mereka memilik anak yang bernama Seto, Ratri
kakaknya, Gatot adiknya. Ayahnya bernama Jono, ibunya Partiwi.
Jono
adalah pensiunan tentara, dia memelihara berbagai macam unnggas dan mengkawin
silangkan segala jenis unggas itu hingga menjadi jenis unggas baru yang aneh
dan menyeramkan. Jono menyembelih unggas persilangan itu dan memakannya
sendirian. Karena istri dan anak-anaknya tidak mau memakan unggas yang terkutuk
itu.
Hingga
pada akhirnya Jono dilarikan ke rumah sakit lantaran keracunan unggas jenis
baru. Semenjak itulah mereka memusnahkan semua unggas tersebut. Seto yang jahil
mencoba untuk menukar air yang selalu Jono diamkan di luar rumah semalaman dan akan
diminumnya setiap hari, lalu ditukar dengan air kakus. Aku rasa ini cerpen
terpanjang di dalam buku ini sekitar 11 halaman.
11. Peristiwa Pagi Hari
Sebenarnya
cerita ini hanya bisa dibaca dan dimengerti oleh orang dewasa. Dan aku sarankan
untuk tidak membacanya jika kamu masih di bawah umur hehe. Sebuah lelucon yang
pengarang buat dengan sebuah imaji yang dahsyat. Diawal cerita pengarang
menceritakan Alit bersama kawan SMAnya yang jauh lebih tua dan berpengalaman
itu sedang bercerita secara diam-diam. Dengan tema orang dewasa. Cerita itu
selalu mengganggu pikiran Alit dan membuatnya kacau serta berhalusinasi.
Kebiasaan
dipagi harinya mambuat Ayahnya heran dan bertanya, namun Alit tak pernah
menjelaskannya. Lalu tibalah saat Alit melihat seorang wanita yang dalam
hayalannya tertawa sangat riang dan melakukan hal yang berlebihan, padahal pada
kenyataannya wanita itu biasa-biasa saja. Karena halusinasi yang berlebihan itu
akhirnya Alit memutuskan untuk datang ke rumah wanita itu. Didapati wanita itu
dan menceritakan halusinasi itu kepadanya. Namun, wanita itu menyuruhnya pulang
karena ajakannya Alit sangatlah tidak masuk akal. Oke mungkin aku ceritanya
sedikit sajalah, karena aku pun tak bisa menceritakannya secara detail.
12. Cerita Tentang Ibu yang Dikerat
Menurutku ini cerita yang sangat
menyedihkan dan mengerikan, kalian wajib baca ini karena ceritanya seru banget.
Sebagai cerpen penutup, cerpen ini sangat berkesan sekali dan aku suka jalan
ceritanya.
Oke, langsung aja aku ceritkan cerpen
ini. Jadi cerpen ini diawali oleh kisah kematian ibunya Alit yang pada saat itu
hidup Alit berubah selalu malam hari, merah dan sunyi. Kematian ibunya yang
membuatnya trauma menjadikan Alit murung dan mengurung dirinya disebuah gubuk
yang penuh dengan laba-laba. Pada awalnya Alit berbuat keanehan, seperti
memukul permukaan air dengan tongkatnya di sungai dan menarik diri di
tempat-tempat sunyi, dan bercakap-cakap dengan binatang. Seperti pada zaman
dahulu.
Ibunya dikerat lehernya dengan pisau
dapur, pada malam itu. Namun, sebenarnya sebelum ibunya tertidur untuk selama-lamanya, Alit sempat
bertanya mengenai mantra yang digunakan oleh orang yang mampu membelah lautan
(cerita para nabi). Alit bertanya “Mantra apa yang diucapkannya?” ibunya
menjawab, “Nanti aku tanyakan”. Padahal ibunya sudah bilang bahwa yang punya
mantra itu sudah mati, Alit pun heran dan bertanya kembali “Katamu ia sudah
mati.”, ibunya menjawab “Kalau aku mati aku akan berjumpa dengannya. Aku merasa
malam ini aku akan mati, jadi malam ini juga akan aku tanyakan padanya tentang
mantra-mantra itu.” Kata-kata ini sangatlah menyayat hati bagi Alit karena
kata-kata itu menjadi kenyataan. Ibunya mati dan Alit merasakan punggungnya
basah oleh darah dan dengan ibu yang terkeret batang lehernya pada pagi itu.
Tidak ada yang tahu siapa pelakunya,
namun yang pasti sebelum kejadian itu terjadi. Ayah Alit matanya terkena peluru
ketapel kakaknya sendiri. Namun, tidak ada yang mengetahuinya. Hingga ibunya
berkata “Aku hanya ingin melihat tangan orang itu patah-patah”. Karena kakaknya
merasa bersalah maka pergilah ia dari rumah tepat di malam saat ibunya dikerat
oleh pisau dapur.
Ibu Alit sering kali bercerita tentang
sebuah asal-usul sesuatu, baik binatang maupun buah. Ibu Alit menceritakan
sebuah anak yang durhaka kepada ibunya dan dikutuk menjadi jambu. Sebenarnya
cerita ini menunjukan bahwanya kakaknyalah yang sebenarnya durhaka terhadap
ibunya. Kakaknya ini tidak pernah mendapatkan cerita dari ibunya, ia hanya
mendapat amarah dan bahkan sempat berbicara kepada ibunya bahwa ia akan mengerat
batang leher ibunya jika terus marah-marah. Ya, karena memang benar kakaknyalah
yang mengerat leher ibu Alit. Hingga Alit menjadi seseorang yang selalu
menjerit-jerit, merintih, tersenyum namun tetap seperti orang tidur.
SELESAI.
Nah, itu dia cerita dari kumpulan cerpen
“Bidadari yang Mengembara” karya A.S Laksana. Sebenarnya A.S Laksana banyak
sekali menggunakan nama tokoh yang sama, seperti Alit dan Seto. Namun menurutku
itu tidak menjadi persoalan, hanya saja sedikit terheran-heran ketika sebuah cerita
mampu diceritakannya dengan gamblang meskipun dalam alur yang ke mana-mana,
mungkin lebih tepatnya penceritaan sebab-akibat yang cukup rumit. Patut
diancungi jempol juga, atas sebuah imaji yang luar biasa ini. Terima kasih para
pembaca setia, semoga apa yang aku sampaikan bermanfaat dan jangan lupa untuk
membacanya langsung dari sumbernya karena aku hanya menceritakan garis besarnya
saja. Terima kasih. Salam Literasi
Daftar Pustaka:
Laksana, A.S. 2014. Bidadari yang Mengembara. Jakarta: Gagas Media.
Komentar
Posting Komentar