Langsung ke konten utama

Resensi Buku Kumpulan Cerpen “Bidadari yang Mengembara” Karya A.S Laksana

Resensi Buku Kumpulan Cerpen “Bidadari yang Mengembara”
Karya A.S Laksana

Penulis            : A.S Laksana
Judul               : Bidadari yang Mengembara
Tahun Terbit    : 2014
Penerbit           : Gagas Media
Tempat            : Jakarta Selatan


            Kumpulan cerpen ini berisikan 12 cerpen yang bertemakan kisah cinta, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat atau konflik sosial. Judul-judul cerpen dari buku ini yaitu:
1.   Menggambar Ayah
  2.  Bidadari yang Mengembara
3. Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang
4. Burung di Langit dan Sekaleng Lem
5.  Seekor Ular di Dalam Kepala
6.  Telepon dari Ibu
7.  Buldoser
8. Seto Menjadi Kupu-kupu
9. Bangkai Anjing
10.  Rumah Unggas
11. Peristiwa Pagi Hari
12. Cerita Tentang Ibu yang Dikerat

Mungkin aku hanya menceritakan sekilas saja dari ke-12 cerpen tersebut, agar kalian makin penasaran dengan buku ini dan membacanya langsung. Selain itu aku tidak menjelaskan unsur intrinsik cerpen secara keseluruhan, namun akan dibahas sekilas saja. Jujur buku ini membuat aku terhibur dan dibeberapa cerpen sempat sangat merasa sedih sekali membacanya, terutama cerpen yang bertemakan keluarga atau persisnya orang tua. Oke langsung saja, aku akan memaparkan satu persatu cerpen di atas.

1. Menggambar Ayah
            Cerpen ini menceritakan kebencian seorang ibu kepada anaknya yang lahir dari rahimnya. Tokoh utama dalam cerita ini yaitu seorang anak yang berumur sepuluh tahun, yang tidak disebutkan namanya. Anak ini sudah disiksa oleh ibunya sedari ia berumur empat bulan dalam kandungan. Tokoh utama menceritakan betapa sulitnya ia bertahan hidup, dengan ditemani oleh teman-temannya yaitu makhluk-makhluk putih yang diperintahkan untuk menjaganya (begitulah tuturnya).  Segala macam obat-obatan yang dikonsumsi oleh ibunya adalah usahnya untuk mengeluarkan anak itu sebelum membesar, namun usahanya sia-sia. Hingga lahirlah anak itu  ke bumi dan ibunya membesarkannya dengan penuh kemarahan.
            Anak itu dikurung di dalam kamar dan tak pernah diajarkan apapun oleh ibunya, termasuk mengenalkannya sosok seorang ayah. Oleh karena itu, anak ini sedikit mengalami gangguan jiwa dan menggambar bapaknya dengan bentuk yang tidak seharusnya. Anak itu menggambarkan bapaknya dengan bentuk p*n*s.  Siapapun yang membacanya mungkin akan tertawa, atau hanya sekedar tersenyum keheranan. Konflik yang disuguhkan yaitu saat anaknya menggambarkan bapaknya disalah satu tembok milik tetangga. Hingga pada akhirnya anak itu dimarahi oleh ibunya dan anak itu mengusir ibunya ke puncak gunung.

2. Bidadari yang Mengembara
            Cerita ini diawali oleh perjalanan Alit yang pergi dari kota asalnya Semarang. Perjalanannya sangatlah mengenaskan. Pada awalnya Alit mengalami kecopetan, lalu ia mencari copet itu dengan cara mengenali tangannya. Namun naas, Alit malah dituduh memperkosan seorang perempuan hingga akhirnya Alit dipukuli dan diinjak-injak hingga dadanya memar. Selama perjalanan pulangnya A.S Laksana (Pengarang), menceritakan sebuah imaji binatang yang bisa berbicara yaitu burung bangau. Serta menambahkan sebuah filosofi tentang tulang rusuk laki-laki yang hilang.
            Selama tujuh hari, Alit baru tiba di kosannya dengan tubuh bak seonggok sampah. Lalu Alit meminta tukang urut untuk mengurut dadanya yang memar. Tukang urut itu seorang perempuan yang sudah berumur 42 tahun dengan hidung yang meleset. Katanya akibat tertabak oleh bemo dahulu.
            Pada saat tukang urut itu menuangkan minyak urut, Alit tak tahan dengan baunya, hingga Alit pun pingsan. Alit bermimpi dan memanggil-manggil nama Nita, seorang wanita canitik bak bidadari. Sejak saat itu tukang urut itu menganggap bahwa Nita adalah dirinya dan Alit menyukainya. Lantas Alit pun pergi entah kemana, dan Nita mengembara pergi mencari Alit hingga ke Semarang tempat Alit tinggal.

3. Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang
            Cerpen ini menceritakan tentang seorang anak yang bertanya kepada ibunya yang sedang hamil. Ia bertanya“Dari mana bayi keluar, Ibu?” namun ibunya menjawab dengan jawaban yang berbelit dan membuat anaknya kesal. Sehingga anak itu pergi selama berminggu-minggu. Ayahnya tak pernah pulang. Hingga ibunya hanya sendiri di rumah bersama anak yang sedang dikandungnya. Berbagai pikiran jelek terbesit di dalam pikirannya membayangkan anaknya yang seorang diri pergi di luar dan tak tahu pergi ke mana.
            Tiba pada minggu kelima, akhirnya anak itu pulang dan bertanya “Lewat mana bayi lahir, ibu? Aku ingin mengintip dia sekarang.” Pertanyaan yang sama dan dengan sebuah keinginan yang mengguncangkan hati ibunya. Selain itu anaknya membawa sebuah kaca pembesar yang sudah ia cari selama berminggu-minggu untuk melihat bayi itu. Hingga pada akhirnya anak itu memaksa ibunya dan ibunya membacakan mantra-mantra meminta pertolongan agar anak yang dirindukannya kembali.

4. Burung di Langit dan Sekaleng Lem
            Menceritakan tentang seorang gelandangan atau tuna wisma yang tak punya tempat tinggal kecuali di jalanan. Namun, polisi malah menangkapnya lantaran tuna wisma itu luntang-lantung di jalanan pada malam hari. Hingga akhirnya tuna wisma itu ditanggap dan introgasi oleh polisi. Polisi menanyakan surat-surat kepada tuna wisma tersebut, kata-kata yang membuarku tertawa adalah “Menurutku, orang tidak usah mengirimkan surat lamaran untuk menjadi gelandangan.” Seakan-akan aku membenarkan pernyataan itu. Memang.
            Setelah tiga hari tuna wisma itu berada di kantor polisi, akhirnya dibebaskan juga. Tuna wisma itu sekitar berumur sebelas sampai tiga belas tahun. Dia berkelana di jalanan, hingga ke sebuah pasar. Dia menemukan sebuah gedung yang dahulu pernah terjadi kebakaran dan ternyata di sana banyak yang membuat tempat tinggal atau tempat sekedar berkumpul untuk menciumi lem dan sebagainya. Menurutnya lebih baik membeli lem dan mencium aromanya dari pada uangnya dibelikan untuk makan. Karena lem bisa membuatnya menahan lapar hingga beberapa hari.

5. Seekor Ular di Dalam Kepala
            Sebenarnya cerita ini adalah sebuah metafor yang digunakan oleh pengarang untuk menceritakan istri yang bermain atau selingkuh di luar dengan laki-laki lain. Seperti itu yang aku pahami, karena ceritanya sangat mustahil dan aneh. Boleh jadi pengarang hanya mengumpamakan sebuah awal perselingkuhan dengan sebuah ular yang masuk ke dalam telinga dan masuk ke dalam otaknya, meracuni isi pikirannya hingga lupa dengan suaminya.
            Jadi, cerpen ini bercerita tentang seorang istri yang biasa dipanggil Lin dan suaminya yang biasa dipanggil Rob. Lin merasakan ada seekor ular yang masuk ke dalam telinganya dan mengganggu pikirannya. Lin menjadi aneh dan terkadang menghayal yang tak lazim. Ular itu mengajaknya untuk memetik apel dan sebagainya. Hingga suaminya memintanya untuk ke psikiater untuk mengecek kejiwaan Lin. Akhir cerita istrinya selingkuh dengan dokter psikiater tersebut. Lalu, Rob menyiapkan alat untuk memecahkan isi kepala Lin nanti malam.

6. Telpon dari Ibu
            Cerpen ini menceritakan pasangan suami istri yang sama-sama sibuk dengan rutinitasnya sendiri. Istrinya menceritakan sahabatnya yang setelah menikah pergi ke luar negeri dan tanpa keluarga satu pun di sana. Setelah itu menceritakan pernikahannya yang tidak direstui oleh kedua belah pihak. Mereka menikah dengan keyakinan yang berbeda dan bagaikan pasangan yang kawin lari.
            Perihal kehamilannya yang kedua kalinya, setelah mengalami kegagalan pada anaknya yang meninggal karena keguguran saat ditugasi perjalanan ke luar kota. Lalu menceritakan sebuah kerinduannya kepada ibunya. Karena ibu menelpon dan bertanya prihal barang yang tertinggal di rumah. Kutipan yang paling aku suka dari cerpen ini yaitu “ Pada saatnya nanti, ia akan bisa menceritakan kepada anaknya tentang neneknya – sebuah akar dari mana pohon keluarga mendapatkan kekuatannya- yang suka menanyakan hal-hal yang sudah berlalu bertahun-tahun.”

7. Buldoser
            Cerita ini menurutku sangatlah menyedihkan, sepanjang hidup ayahnya diburu oleh Buldoser. Sampai saat kematiannya pun ayahnya masih diburu oleh Buldoser itu. Cerita ini diawali oleh cerita Alit yang merasakan kedatangan sosok Ayahnya yang sudah meninggal. Alit bercerita tentang kebiasaannya bersama Ayahnya dan pertanyaan yang selalu diajukan oleh Ayahnya sewaktu kecil. Tentang pertanyaan “Kamu ingin menjadi apa kelak, Alit?”  dan Alit menjawab “Menjadi dokter Yah!”.
            Tetapi semenjak Alit duduk di bangku kelas dua SMP, sekolah Alit terganggu karena penggusuran. Semua masyarakat geram bahkan melakukan beberapa aksi nihilnya. Hingga Alit pun pindah ke rumah neneknya. Dengan segala keresahan yang Alit rasakan tinggal bersama neneknya yang cerewet dan selalu batuk-batuk. Namun, ketika Alit duduk di bangku kelas tiga SMA, Buldoser itu seakan-akan memburu mereka kembali, rumah yang didirikan dipekarangan rumah neneknya terpaksa harus digusur untuk perluasan jalan. Ayahnya masih tabah, hingga Ayah Alit meninggal.
            Di dalam mimpi Alit bertemu dengan Ayahnya dan berpesan untuk menemui adiknya segera. Ternyata kabar menyakitkan yang disampaikan adiknya membuat Alit kesal. Makam Ayahnya terpaksa harus dipindahkan, karena ada proyek jalan arteri. “Dan Ayah! Ia terus dikejar-kejar buldoser. Bahkan, sampai tiba waktu baginya untuk beristirahat...”. 

8. Seto Menjadi Kupu-kupu
            Sebenarnya cerpen ini adalah cerpen yang sangat sulit aku habiskan, entah mengapa. Mungkin jika kalian yang membaca akan mengetahui masalahnya, ada pada diriku atau isi cerita. Oke, jadi cerpen ini menceritakan kegilaan Seto terhadap seorang perempuan anak tukang martabak. Selain itu Seto juga seorang yang sangat percaya terhadap sebuah ramalan dan Seto mengikuti semua jenis petunjuk ramalan itu agar hidupnya baik dan bisa mendapatkan perempuan anak tukang martabak itu.
            Ceritanya panjang sekali, mulai dari Seto yang selalu beli martabak dan bilang bahwa ia sangat menyukai martabak. Lalu menceritakan pindahnya perempuan itu, bacaan bukunya yang banyak mengenai ramalan yang menurutku membuang-buang waktu, jika aku menjadi Seto. Sayangnya aku tidak mau hehe. Hingga akhirnya Seto tak terlihat di dalam kamarnya dan hanya tersisa kupu-kupu di dalam kamar itu. Orang bilang Seto berubah menjadi kupu-kupu. Mungkin cerpen ini menggambarkan seorang laki-laki yang tak mampu untuk menyatakan cintanya secara laki kepada wanita yang ia sukai. Hingga pengarang mengibaratkannya sebagai kupu-kupu atau bisa jadi sebagai cupu-cupu.

9.  Bangkai Anjing
            Wah cerita ini sangat mengesankan, sebuah cerita yang tidak bisa aku tebak kemana alur akan membawanya bertandang hingga berakhir. Cerita ini diawali oleh kejadian di kantor tempat Alit bekerja, ia bekerja sebagai seorang wartawan. Saat itu kepala sangat sakit ketika dipaksa untuk membuat sebuah berita. Berita yang memalukan. Lalu dilanjut dengan cerita Ayahnya yang tak pernah Alit akui sebagai seorang Ayah kepada teman atau kepada siapa pun. Karena tubuh Ayahnya yang bengkak-bengkak dan wajahnya yang buruk seperti mainan plastik yang terbakar.
            Namun Alit sangat senang jika diajak Ayahnya ke taman atau dibelikan mainan. Tetapi meski mereka pergi berdua, mereka tidak pernah berjalan secara berdampingan, Alit selalu berjarak jauh oleh Ayahnya, karena hawatir orang lain tahu bahwa ia adalah anak dari Ayah yang buruk rupa itu. Alit juga menceritakan tidak pernah bertanya kepada kedua kakaknya (semua laki-laki) saat berjalan bersama dengan Ayahnya bagaimana, karena kakaknya pun tak pernah mengajak teman-temannya untuk datang ke rumah.
            Ayah dan ibunya sudah bercerai, namun ketiga anaknya mengikuti ayahnya dengan terpaksa dan dengan menahan malu yang ditahan-tahan. Kakaknya pergi meninggalkan ayahnya secara bergantian, hingga akhirnya Alit pun meninggalkan ayahnya sendirian. Namun sang ayah tidak masalah dengan kepergian Alit. Jujur dibagaian ini sangat menyedihkan, dialog yang sangat menusuk relung hati. Bagi kamu pembaca yang sayang sekali dengan kedua orang tua kalian pasti akan menitikan air mata.
            Saat kepergian Alit, tiba-tiba ada anjing yang tertabrak dan bangkai anjing itu dibawa oleh anak-anak berandalan untuk disantap. Sebuah tanda yang tidak menjadi masalah untuk Alit pada saat itu. Akhirnya Alit pun menjadi wartawan dan bertugas untuk menyelidiki sebuah kegiatan seorang waria di salah satu tempat. Segala rintangan ia lewati demi mendapatkan informasi. Hingga Alit mendengar kabar bahwa sebenarnya ada seorang waria yang bekerja sebagai supir truk. Tanpa pikir panjang Alit pun ingin sekali mendapatkan informasi seorang waria supir truk itu. Hingga akhirnya Alit bertemu dan ternyata waria itu adalah orang yang sangat ia kenal sedari kecil. Dia adalah kakaknya sendiri. Alit sangat muak melihat kakaknya itu, bagaikan bangkai anjing. Namun, setelah beberapa hari terdengar kabar bahwa ada seorang waria yang bunuh diri, yang tak lain adalah kakaknya.

10. Rumah Unggas
            Rumah unggas, benar-benar rumahnya unggas. Seorang bapak yang memelihara bermacam-macam jenis unggas di dalam rumahnya, hingga kotorannya pun bercampur baur di dalam rumah itu. Ceritanya cukup panjang dan luas sekali menceritakannya. Tetapi yang pasti mereka memilik anak yang bernama Seto, Ratri kakaknya, Gatot adiknya. Ayahnya bernama Jono, ibunya Partiwi.
            Jono adalah pensiunan tentara, dia memelihara berbagai macam unnggas dan mengkawin silangkan segala jenis unggas itu hingga menjadi jenis unggas baru yang aneh dan menyeramkan. Jono menyembelih unggas persilangan itu dan memakannya sendirian. Karena istri dan anak-anaknya tidak mau memakan unggas yang terkutuk itu.
            Hingga pada akhirnya Jono dilarikan ke rumah sakit lantaran keracunan unggas jenis baru. Semenjak itulah mereka memusnahkan semua unggas tersebut. Seto yang jahil mencoba untuk menukar air yang selalu Jono diamkan di luar rumah semalaman dan akan diminumnya setiap hari, lalu ditukar dengan air kakus. Aku rasa ini cerpen terpanjang di dalam buku ini sekitar 11 halaman.

11. Peristiwa Pagi Hari
            Sebenarnya cerita ini hanya bisa dibaca dan dimengerti oleh orang dewasa. Dan aku sarankan untuk tidak membacanya jika kamu masih di bawah umur hehe. Sebuah lelucon yang pengarang buat dengan sebuah imaji yang dahsyat. Diawal cerita pengarang menceritakan Alit bersama kawan SMAnya yang jauh lebih tua dan berpengalaman itu sedang bercerita secara diam-diam. Dengan tema orang dewasa. Cerita itu selalu mengganggu pikiran Alit dan membuatnya kacau serta berhalusinasi.
            Kebiasaan dipagi harinya mambuat Ayahnya heran dan bertanya, namun Alit tak pernah menjelaskannya. Lalu tibalah saat Alit melihat seorang wanita yang dalam hayalannya tertawa sangat riang dan melakukan hal yang berlebihan, padahal pada kenyataannya wanita itu biasa-biasa saja. Karena halusinasi yang berlebihan itu akhirnya Alit memutuskan untuk datang ke rumah wanita itu. Didapati wanita itu dan menceritakan halusinasi itu kepadanya. Namun, wanita itu menyuruhnya pulang karena ajakannya Alit sangatlah tidak masuk akal. Oke mungkin aku ceritanya sedikit sajalah, karena aku pun tak bisa menceritakannya secara detail.

12. Cerita Tentang Ibu yang Dikerat
Menurutku ini cerita yang sangat menyedihkan dan mengerikan, kalian wajib baca ini karena ceritanya seru banget. Sebagai cerpen penutup, cerpen ini sangat berkesan sekali dan aku suka jalan ceritanya.
Oke, langsung aja aku ceritkan cerpen ini. Jadi cerpen ini diawali oleh kisah kematian ibunya Alit yang pada saat itu hidup Alit berubah selalu malam hari, merah dan sunyi. Kematian ibunya yang membuatnya trauma menjadikan Alit murung dan mengurung dirinya disebuah gubuk yang penuh dengan laba-laba. Pada awalnya Alit berbuat keanehan, seperti memukul permukaan air dengan tongkatnya di sungai dan menarik diri di tempat-tempat sunyi, dan bercakap-cakap dengan binatang. Seperti pada zaman dahulu.
Ibunya dikerat lehernya dengan pisau dapur, pada malam itu. Namun, sebenarnya sebelum ibunya  tertidur untuk selama-lamanya, Alit sempat bertanya mengenai mantra yang digunakan oleh orang yang mampu membelah lautan (cerita para nabi). Alit bertanya “Mantra apa yang diucapkannya?” ibunya menjawab, “Nanti aku tanyakan”. Padahal ibunya sudah bilang bahwa yang punya mantra itu sudah mati, Alit pun heran dan bertanya kembali “Katamu ia sudah mati.”, ibunya menjawab “Kalau aku mati aku akan berjumpa dengannya. Aku merasa malam ini aku akan mati, jadi malam ini juga akan aku tanyakan padanya tentang mantra-mantra itu.” Kata-kata ini sangatlah menyayat hati bagi Alit karena kata-kata itu menjadi kenyataan. Ibunya mati dan Alit merasakan punggungnya basah oleh darah dan dengan ibu yang terkeret batang lehernya pada pagi itu.
Tidak ada yang tahu siapa pelakunya, namun yang pasti sebelum kejadian itu terjadi. Ayah Alit matanya terkena peluru ketapel kakaknya sendiri. Namun, tidak ada yang mengetahuinya. Hingga ibunya berkata “Aku hanya ingin melihat tangan orang itu patah-patah”. Karena kakaknya merasa bersalah maka pergilah ia dari rumah tepat di malam saat ibunya dikerat oleh pisau dapur.
Ibu Alit sering kali bercerita tentang sebuah asal-usul sesuatu, baik binatang maupun buah. Ibu Alit menceritakan sebuah anak yang durhaka kepada ibunya dan dikutuk menjadi jambu. Sebenarnya cerita ini menunjukan bahwanya kakaknyalah yang sebenarnya durhaka terhadap ibunya. Kakaknya ini tidak pernah mendapatkan cerita dari ibunya, ia hanya mendapat amarah dan bahkan sempat berbicara kepada ibunya bahwa ia akan mengerat batang leher ibunya jika terus marah-marah. Ya, karena memang benar kakaknyalah yang mengerat leher ibu Alit. Hingga Alit menjadi seseorang yang selalu menjerit-jerit, merintih, tersenyum namun tetap seperti orang tidur.   
SELESAI.


Nah, itu dia cerita dari kumpulan cerpen “Bidadari yang Mengembara” karya A.S Laksana. Sebenarnya A.S Laksana banyak sekali menggunakan nama tokoh yang sama, seperti Alit dan Seto. Namun menurutku itu tidak menjadi persoalan, hanya saja sedikit terheran-heran ketika sebuah cerita mampu diceritakannya dengan gamblang meskipun dalam alur yang ke mana-mana, mungkin lebih tepatnya penceritaan sebab-akibat yang cukup rumit. Patut diancungi jempol juga, atas sebuah imaji yang luar biasa ini. Terima kasih para pembaca setia, semoga apa yang aku sampaikan bermanfaat dan jangan lupa untuk membacanya langsung dari sumbernya karena aku hanya menceritakan garis besarnya saja. Terima kasih. Salam Literasi

Daftar Pustaka:
Laksana, A.S. 2014. Bidadari yang Mengembara. Jakarta: Gagas Media.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Tumbal"

“TUMBAL” (Oleh Saskia Monalisa) Musim pencalonan jadi waktu paling ditunggu-tunggu para politisi. Bukan hanya sekadar uang atau materi yang jadi taruhan, nyawa pun bisa tergadai. Kampung Sukaharja, sekitar satu bulan lalu, beredar cerita-cerita yang mengabarkan kematian istri mantan kepala dusun. Lusi jadi tumbal dari pencalonan Bambang suaminya. Pencalonan yang ketiga kalinya. Aturan di Desa Sukaharja dalam pemilihan kepala dusun boleh menjabat sebanyak tiga kali, setelah itu barulah tidak dibolehkan untuk mencalonkan kembali.   Sungguh malang nasib Lusi, meninggal saat suaminya berjuang mempertahankan posisi sebagai kepala dusun. Isu beredar lantaran Lusi meninggal dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun. Semua warga geger dan menyimpulkan kematiannya sebuah kiriman. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui pasti, siapa yang telah mengirimkan maut kepada Lusi. *** Saat matahari sedang beranjak untuk menenggelamkan wajahnya, semua masyarakat Sukaharja...

Cerpen Jelmaan Karya Saskia Monalisa (Nominasi 5 Naskah Terbaik UGM)

JELMAAN (Karya: Saskia Monalisa)             Di bawah rimbunnya kebun salak, aku terpaku melihat pohon jambu batu yang sangat subur. Tempat bermain anak-anak. Mencari jambu matang lalu melahapnya sampai kenyang. Di sampingku berjejer pohon salak yang penuh dengan duri disetiap batang tubuhnya. Durinya kecil dan sangat runcing, jika tertusuk duri salak, cepatlah ambil getah pepaya untuk membuat duri itu keluar dari kulit. Begitu yang selalu Ema bilang kepadaku.             Di sela lebatnya pohon salak, terdapat berbagai jenis pepohonan yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti pohon melinjo, kecapi, dukuh maupun rambutan. Sayang, kebun Salak ini sudah lama tak terurus. Semenjak Buyut meninggal, banyak rumput liar menyelimuti pepohonan dan kebun terasa gelap serta menyeramkan. Tumpukan sampah dedaunan membuat siapa saja ketakutan untuk menginjakan kakinya. K...

Cerpen "Sang Kuncen"

  Air itu tak henti-hentinya mengalir, meski kemarau panjang menerjang. Tak jarang juga banyak pelancong yang datang dari kota dengan maksud mencari sumber air itu dan memakainya untuk sekedar mandi atau bahkan dibawanya pulang untuk keperluan usaha dan mengobati segala jenis penyakit. Mata air itu dinamakan Sumur Ambaro. Sumur yang hanya berkedalaman dua sampai tiga meter saja, dengan air yang sangat jernih. Siapa pun yang menyentuh air tersebut akan terasa dingin, serta sejuk jika terkena kulit seperti air dari pegunungan. Namun, kenyataannya Sumur Ambaro ini tidaklah berada di sekitaran gunung. Bahkan terbilang jauh dari pegunungan. *** Konon, pada zaman dahulu, daerah itu mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Warga berlomba-lomba untuk menggali sumur sedalam-dalamnya. Hampir setiap rumah memiliki sumur yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter. Karena kekeringan membuat warga resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan sumber kehidupan. Hingga tibal...